Seandainya Aku Menjadi Senior PMII
Intervensi senior bukan saja berpengaruh pada pencanangan kebebasan kader, namun juga akan melumpuhkan produktifitas kader. Akibat dari intervensi ini, kader akan membentuk kubu–kubu atau dinasti sendiri berdasarkan tali hubungan dengan seniornya masing-masing. Berdasarkan hemat bodoh saya, organisasi PMII memanglah organisasi kaderisasi dan ideologisasi. Namun tidak dapat dipungkiri, organisasi PMII juga merupakan organisasi yang berlandaskan senioritas. Hal tersebut dapat dikatakan wajar bagi organisasi ekstra manapun.
Saya menulis tentang catatan perjalanan saya sebagai tolak ukur sahabat – sahabat yang sedang menjalani proses di organisasi ekstra, khususnya PMII. Sebagian perjalanan saya sebagai mahasiswa, ada di organisasi PMII. Oleh karena itu, PMII sangat personal bagi saya. Dari awal saya berproses sampai detik ini, saya selalu mendapatkan wejangan dari berbagai senior dengan watak dan karakter yang berbeda–beda. Saya mendapatkan wejangan tersebut tidak selamanya tentang intervensi dalam momen politik saja, melainkan ada beberapa senior yang selalu mensupport kader–kader PMII dalam menjalankan proses. Support seperti apa? Support dalam bentuk doa, jaringan, material dan lain sebagainya.
Andai aku menjadi senior PMII
Tugas dan kewajiban senior bukan hanya mengintervensi kader. Masih banyak hal yang harus dilakukan senior selain ikut campur tangan dalam setiap tindak tanduk kadernya. Senior cukup memberikan masukan dan arahan atau memberikan gambaran ”cerita masa lampau”. Karena mantan Presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln pernah berkata “We can’t escape the history”. Cerita perjalanan senior itu sangatlah penting, karena bisa menjadi tolak ukur para kader dalam berproses, bukan berarti kader juga harus sama persis prosesnya dengan senior, akan tetapi setiap perejalanan senior yang telah terjadi dapat menjadi ibrah atau pelajaran yang dapat diambil hikmahnya. Ada pepatah yang mengatakan setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya. Oleh karena itu, yang dibutuhkan oleh kader adalah suatu esensi dari pengalaman yang dialami para senior, yang kemudian dapat diterapkan oleh kadernya untuk mengatasi problem yang dihadapi kader di setiap masanya, Kader mempunyai potensi yang berbeda-beda dan kader juga mempunyai prosesnya masing–masing, itu sebagai bentuk perjuangan mereka dalam menjalani proses di PMII.
Berbicara tanggung jawab secara signifikan merupakan tugas berat yang harus di emban oleh warga pergerakan mengingat perubahan yang akan tercipta tidaklah dapat mudah di terima dikalangan senior maupun kaum pergerakan. Mengingat historis warga pergerakan yang menjadi peran penampung aspirasi rakyat. Maka kemana label yang seharusnya diemban oleh para wajah pergerakan?
Setelah kita lihat bersama, faktanya senior Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia saat ini lebih condong mengarahkan kadernya ke dunia politik dibandingkan melihat bahkan mendampingi potensi kadernya yang beraneka ragam. Saat ini warga pergerakan lebih dikenal sikap anarkisnya dari pada sifat kritisnya yang seharusnya selalu jadi acuan para kader PMII. Kaum yang seharusnya di kenal dengan intelektualitasnya malah terlihat dan berlabel sebaliknya. Siapa dalang dibalik semua problematika atas terciptanya perjalanan ini? Tentu saja mereka yang sudah menjadi para pemangku kekuasaan, yang merasa suaranya seperti firman Tuhan yang wajib di laksanakan oleh hambanya. Tumbuh Subur Kader PMII.
HIDUP KADER PMII..!!
SALAM PERGERAKAN..!!
4 Komentar
Mantap,
BalasHapusSeimbang dan jang terlalu fanatik.. 💛💙
BalasHapusOrang yang lebih dulu atau yang lebih familiar ditelinga kader pmii yaitu Senior. Memang betul tugas senior hanya mengayomi, memberikan pemahaman kepada seorang kader untuk bisa berfikir kritis,transformatif dan inovatif. Hanya itu.
BalasHapus"maaf saya bukan senior tapi saya orang yang duluan masuk organisasi ini. saya tidak pantas menyandang senior"
BalasHapusSemoga tidak ada kata senior sehingga tidak memicu hingga adanya kata senioritas