Apa itu sunyi? Bagaimana bentuknya?
Dan bagaimana sebuah kesunyian bagimu?
Bagi Putri, kesunyian adalah kekerasan ketakutan dan ketidakpastian. Ditinggal laki-laki hidung belang yang dia kenal dari kecanggihan teknologi. Hingga menimbulkan desakan peperangan dari batin hingga demi harga diri keluarganya.
Kesunyian putri mulai berdetak saat dari kecerdasan bibir manis laki-laki. Kecerdasan pujian dan janji itulah yang membuatnya harus terperosok jurang dan keputusan besarnya. Dentuman suara keras mendaulatkan hukum dan mimpi yang menjadi jembatan keikhlasannya.
Putri sangat mencintai masa depannya, hingga cita-citanya untuk keluarganya, tapi tidak begitu sebaliknya. Ketika dia harus merasa ternodai dan membesarkan bibit dalam rahimnya.
Putri yang tak tau akan seperti ini hanya bisa putus asa, tapi bagaimana dengan ribuan bintang dan mimpinya harus diraih. Tak ada mimpi sunyi pun temannya.
Cerita pendek ini berkisah dari kejadian nyata dari seorang gadis, yang bernama "Al" yang harus menghidupi seorang anak di usianya harus berjuang meraih mimpi. Namun dia tak pernah putus asa, dia mengingat bahwa dia memiliki mimpi, keluarga dan anak yang harus dia besarkan, dia bertekad untuk meraih mimpi itu.
#Triggered Warning #kekerasanseksual
“ aku iki bapak’e, lan putri kui anak ku,enek opo-opo ne anakku, aku yo kudu melu enek” suara laki-laki paruh baya yang putus asa.
“ rasane aku pengen mati pak, uripku rosone mek duwe rai, rai ku ws suwek pak, isin pak, metu omah ki ws ra sanggup”
Dibalik pintu kamar, seorang gadis mendengarkan perdebatan dan keluhan penyesalan dari orang tuanya yang telah dia lakukan.
*gadis itu mengambil handphone nya dan menyalakan alunan musik suara sindenan jawa dari yang telah memenuhi seluruh sela-sela kamar untuk menggoyangkan badannya secara paksa*
Matahari sudah menampilkan beberapa radar sinarnya untuk memenuhi semua yang ada di bumi, dan pukul jam menampilkan waktu untuk istirahat, dan suara gerombolan suara gadis dari sudut kelas itu, membuat semakin berwarna.
“iki lo, lananganku,ganteng to?”
“ganteng tok, sugih ra?”
“iyo, guanteng egh”
“yo jelas sugih, aku ae dolan ku nyank mall terus, po koyok awakmu-awakmu Kabeh, paleng Yo nyank sisir laut?”
"Oalah Iyo… Iyo"
"Beh… beh"
“ pethuk neng ndi?”
“ menengo, ojo omong sopo-sopo, aku pethuk ndek aplikasi biro jodoh, djan cuocok. Sak jalukmu enek?”
“oalah..”
“mosok sing tak jaluk enek?”
"Lha Yo, mosok enek Kabeh? Sing tak karepne?
" Koyok Justin Bieber enek Ra?"
“ yo enek, penting kowe ayu, gelem gaul”
*suara saut-sautan gadis putih abu-abu di sudut kelas, saat jam istirahat*
“ put... awakmu kan ayu, pinter, body mu yo apik, mosok ra ndue lanangan? Ra payu tah, awakmu kuwi?”
" Wo ho.o put"
" Lha Yo to put"
*suara temaputri sentak kaget dan bingung, terpaksa harus berbohong*
“aku yo nduwe to, lanangan ku nek kota, adooh”
*putri mengalihkan pandangan semua teman sekelasnya kepada dirinya sendiri*
“ tenane? Jal, gowonen rene put, ayo dolan bareng-bareng nyank sisir laut. Iso to?”
“wo.. yo iso no, engko tak kabarane sek, lanangan ku”
" Kabeh Jo lali, kudu golek lanangan, Ben payu, betul ngunu to put?"
*Putri langsung kaget dan menganggukan kepalanya, menandakan dia setuju*
Putri yang dikenal sebagai gadis lugu dan polos, memaksa dirinya untuk berbohong dan agar mendapat kepercayaan dari teman-temannya. Tapi berbeda dengan Anjani, sahabat gadis pemilik paras yang cukup keras dan tomboy
*Anjani menyenggol kaki putri dan menatap kuat, seolah-olah memberi isyarat jangan melakukan hal itu. Putri terpaksa meyakinkan sahabatnya dengan mengagukkan kepalanya, agar sahabatnya setuju dengan yang dia katakan*
Bel sholat Ashar sudah berbunyi. Di sekolah Putri, apabila bel sholat Ashar sudah berbunyi, menandakan bahwa hari di sekolah sudah selesai.
*Putri menyenggol siku Anjani*
“ Ayo budhal wudhu, sholat An...”
“iyo Put, sek...sek...sek, tak ringkes-ringkes sek”
*putri menganggukkan kepalanya, bukti dia setuju, dan berjalan menuju pintu kelas, sambil menunggu sahabatnya*
“ ndek mburi ae yo Put, aku arep mulih cepet, ra usah dungo, oke?”
“iyo, sak karepmu”
Ketika mereka menuju tempat wudhu, putri terus memikirkan janji sembrononya dengan temannya, padahal dia tidak pernah memikirkan laki-laki sebenarnya seperti apa, dia terus melamunkan hal itu.
“ woi, lamun ae to put..., kuwi lo, ws wayahmu wudhu...”
*pukulan tangan dari Anjani membuyarkan semua lamunan itu. Dia hanya menoleh dan tersenyum.*
Mereka pun sholat berjamaah dan pulang bersama, berbeda dengan Anjani yang harus pulang cepat, dia harus menuju pesisir, membantu ibunya yang menggantikan ayahnya sementara waktu ini.
“ wis mulih to nduk? Ki gowonen, ayo mulih”
*sambil mencium tangannya*
“sampun buk, nggeh buk”
Selama perjalanan pulang Putri menutupi hal yang dia pikirkan dari ibunya dan bercanda di atas motor.
Putri diam-diam mencari kenalan seorang laki-laki dari sosial media, dan berkomunikasi dengannya. Bahkan tanpa sadar dia menyetujui janji bertemu pertama.
Sudah 3 bulan lebih, dia menjalin hubungan dengan laki-laki yang tidak jelas secara utuh dia kenal itu, bahkan teman-temannya sudah tidak meragukan hal itu.
Suatu ketika memasuki hari terakhir dari bulan ketigannya, Putri di ajak laki-laki yang dia percaya untuk jalan-jalan ke kota dan meninap.
Suatu hari setelah sebulan pertemuan itu, laki-laki itu jarang menghubunginya, dan selalu membuat alasan bahwa dia sibuk. Putri gelisah dan sedikit takut sesuatu hal akan terjadi.
“Put, aku saiki lo prei (menstruasi), mosok awakmu gurung, kan awakmu kacek 3 dino mbek aku.”
“eih... iyo tah anj?”
“ cah iki aneh men to”
*putri semakin bingung dan memikirkan yang tidak-tidak. Dia teringat drama sinetron yang di televisi, apabila perempuan tak kunjung menstruasi, berarti dia gejala kehamilan*
Kesunyian mulai menghinggapi Putri yang diterkam dilema ketakutan atas dugaan nya, dia berusaha berfikir positif.
Suatu ketika di pagi hari, saat sedang sarapan bersama kakak laki-lakinya. Tiba-tiba Putri merasa ada yang aneh dengan badannya, dia merasa mual, dan pusing. Kegelisahan dia semakin menjadi ketika kakaknya yang juga ikut khawatir.
*Putri mual-mual*
" Nyapo we put? Loro Tah?"
*Hoek… Hoek*
" Ki Lo banyu, ngombe o sek,lek loro ndek omah ae, gak usah sekolah"
*Putri kaget dan sontak menggelengkan kepalanya, bahwa dia tidak setuju dengan pendapat kakaknya*
" Ora mas, aku mek masuk angin, aku Ra popo."
*Kakaknya meyakinkan dirinya*
"Tenang?"
"Iyo mas, aku sehat kok"
" Wo… Yo ws, aku tak budak sek Yo"
"Iyo mas, ati-ati"
*Putri langsung pergi siap-siap untuk kesekolah*
*Kringgg…. Suara bel sekolah seperti biasa yang menandakan telah usai hari itu*
"Put, ayo nyank peken?"
*Anjani mengajak putri untuk pergi ke pasar*
" Sepurane An, aku arep ngewangi ibukku, bapakku melbu rumah sakit"
"Oalah Yo ws put, ora popo, mugo-mugo Pak mu ndank waras"
*Dengan wajah kesal Anjani harus mengiyakan penolakan sahabat nya*
Sewaktu di jalan, putri berpikir untuk pergi ke Apotek, dia ingin membeli test pack, yang selama ini memenuhi pikirannya. Dia beranikan dirinya untuk masuk ke Apotek dan membelinya, untung saja penjaga Apotek tidak menanyakan apapun.
Dia pulang kerumahnya, berharap dirumahnya tidak ada orang. Benar saja orang-orang dirumah sedang tidak ada, mereka sedang menjaga ayahnya.
"Aku kudu ndank gawe Iki, kudu ndank tak cek, mumpung wong-wong omah lagi Podo metu"
*Putri bergumam*
Betapa kagetnya putri mengetahui hasilnya, 2 garis terpampang nyata dihadapannya. Dia mengambil ponselnya dan memfoto hasil nya untuk pacarnya.
Keesokan nya saat di sekolah, di tempat parkir dia selalu WatshApp pacarnya
"Kowe neng ndi mas"
"Ayo pethuk an"
"Mas… Aku pengen ngomong"
*Beberapa pesannya untuk pacarnya*
Ketika di lorong sekolah, segerombolan anak laki-laki melihat dia, dan menyindirkan beberapa kata.
"Ah mas, isin aku"
"Isin no, bak no doyan"
*Beberapa ungkapan gerombolan anak laki-laki*
Dan putri hanya mampu mengacuhkan.
Putri pulang kerumahnya dan melihat ayahnya yang hari ini pulang dari rumah sakit.
*Suara klakson mobil*
*Putri langsung lari, mendekati mobil itu dan membantu ayahnya untuk masuk ke rumah*
"Suwun nggeh pak"
"Nggeh buk, Monggo"
"Nggeh pak, atos-atos nggeh"
*Ibu putri yang bicara dengan sopir pemilik mobil*
*Dan putri membantu ibunya yang sedang membantu ayahnya untuk masuk rumah"
Seketika datanglah Anjani ke rumahnya putri, yang mendengarkan kabar mengagetkan dirinya
"Assalamualaikum put"
"Waallaikum sallam Abu, melbu o"
*Anjani masuk ke kamar putri, dengan tatapan tidak percaya nya dia, atas yang menimpa sahabatnya*
"Aku kan ws omong, Ojo sembrono put, mas mu Kuwi ws nduwe bojo, iso-iso ne awakmu ora ngerungok be Aku"
"Aku Dewe Yo Ra ruh Anj, aku bingung"
Rumah Putri yang biasa dibuat tongkrongan teman-temannya, karena sang kakak membuat warung di depan rumah, selalu ramai dan selalu mendengarkan omongan mereka.
"Delok en iki, mulus nda…"
"Beh… beh ISO suwi gak wi"
"Gedi Ra wi, gandolan ne kuat gak"
"Pokok kalo suwi Yo Joss"
"Hahaha wedok an saiki Jan poh ooh…"
*Suara saut-sautan laki-laki diwarung kakaknya putri*
* Putri yang mendengar langsung keluar dari kamar, dan pergi mendatangi gerombolan laki-laki itu*
"Lambemu… iso dijogo ra? Anggeet mu wedok an kui opo? Sak karepmu ae lek ngomong"
*Putri terbawa emosi dengan perkataan gerombolan laki-laki itu*
" We Ki Lo… nyapo?, Kok nesu-nesu?"
" Ra seneng ngomong ngo"
"Iyo, aku Ra seneng, ngalih o, minggat, nduwe lambe Ra ISO di jogo"
"Wo… gaplek ane, ngalih Yo…"
*Gerombolan laki-laki itu pun pergi dengan menaiki motor mereka*
*Anjani mendatangi putri*
"Sing sabar Put, Ojo suntrak suntruk AE, aku tak muleh Yo, tenang no awakmu, lek enek opo-opo ngomongo"
*Putri hanya mengangguk kan kepalanya dan melihat Anjani pergi dari hadapannya.*
Suatu ketika di paginya matahari mulai bersinar, putri berangkat sekolah dan memarkirkan motor beatnya seperti teman-temannya, dia selalu menanyakan kabar pacarnya, dia selalu mencari keberadaan pacarnya. Dan saat itu suara sindiran itu mulai keras, mulai menyiksa dirinya, dan mengganggunya. Dia tidak jadi sekolah, dia kembali pulang dan berdiam dikamar.
Sore harinya, Kepala sekolahnya mendatangi rumahnya dan memberikan kabar yang sangat mencabik hati ayah dan ibunya.
"Maaf pak, Bu, dengan terpaksa Putri harus kami keluarkan dari sekolah, karena video seksualnya sudah tersebar luas, dan ini sudah membuat nama sekolah tercoreng"
*Ibunya menatap ayahnya sebagai bentuk kepasrahan dan putri hanya bisa sedih dan tak tau harus gimana*
"Jane awakmu Iki pie to nduk?, Kok isone ngisin-ngisini ibukmu mbek bapakmu Iki, kudu pie nduk, aku kudu pie?"
*Serumah putri menangis, memarahi,kecewa, bingung, gelisah, dan hanya bisa pasrah*
"Ndank ngomongo nduk, aku Ki kudu pie? Patenono buk mu Ki Lo, kok eram men awakmu iki nyikso batin ne ibuk"
*Putri langsung pergi dan menangis, dia lari ke kamarnya dan menyalakan musik dengan keras, agar tidak bisa mendengar semua omongan orangtuanya. Langit mendung, dia berlari menuju jemurannya, namun sayang… hujan telah turun dengan deras, hingga terdengar dentuman kilat cahaya, dan dia harus ikut kehujanan. Namun saat putri mengambil semua bajunya, salah satu bajunya jatuh, baju itu adalah seragam sekolah SMA dia*
Saat menjelang sore hari seorang laki-laki paruh baya datang dengan gaya wibawanya, menandakan dia orang kaya. Dia duduk di ruang tamu, ada tawar menawar begitu keras perihal skandal semua ini.
"Niki wonten orto 1M, Monggo jenengan mboten usah libat Aken hukum"
"Opo Iki?, Anggetmu anak ku Iki bondo, sak penakmu mbok regani 1M, Iki ws ora iso di damai ne, Ki es penipuan Karo mencemarkan anak wedok ku, Ra ISO"
" Nopo kurang to pak?, Niki nggeh masalah e, hp ne bar ilang, Yo Ra ruh bakal koyok ngene"
"Duduk masalah kurang opo gak e, aku Ra urus masalah e. Aku ruh wong Kono Ki sugih, aku wong Ra ndue, mbok Yo ngeregani anak ku, opo Ira di didik tanggung jawab?"
*Obrolan suruhan pacar putri dan ayahnya*
"Saiki we minggat to, gowonen Iki duitmu, kene ora butuh, Iki panggah tak gowo nyank hukum"
*Karena pesuruh pacar putri sudah tidak kuasa lagi, dia pulang dengan perasaan kesal*
Setelah perginya pesuruh itu, Ibu dan ayah putri kembali mengungkit hal itu.
"Pak, aku mbok Kon pie neh?"
"Sing sabar buk, Iki ujian ne awek Dewe, ndue anak wedok, ayu kan pinter koyok putri"
*Ibunya menghela nafas kuat diantara jeda tangisannya*
“ aku iki bapak’e, lan putri kui anak ku,enek opo-opo ne anakku, aku yo kudu melu enek” suara laki-laki paruh baya yang putus asa.
“ rasane aku pengen mati pak, uripku rosone mek duwe rai, rai ku ws suwek pak, isin pak, metu omah ki ws ra sanggup”
Dibalik pintu kamar, seorang gadis mendengarkan perdebatan dan keluhan penyesalan dari orang tuanya yang telah dia lakukan.
*gadis itu mengambil handphone nya dan menyalakan alunan musik suara sindenan jawa dari yang telah memenuhi seluruh sela-sela kamar untuk menggoyangkan badannya secara paksa*
Saat ibunya mengetahui alunan musik itu, dia masuk ke kamar Putri dan melihat anaknya seolah terbebani dan tidak sadar diri dengan tarian-tarian nya.
"Nduk sadar nduk…. Nduk!!!"
*Putri menatap sang ibu dengan menangis deras*
"Saiki awakmu jaluk e pie?"
*Dengan kepasrahan dan tekad*
"Aku pengen sekolah buk, putri pengen sekolah"
*Sang ibu memeluk dan menenangkan putri*
"Iyo nduk.. Iyo sekolah…"
*Ibunya terus menenangkan dan memberi dukungan untuk Putri*
Waktu terus berjalan tanpa memberi ampun, 2 tahun setelah itu, Putri yang memutuskan untuk tetap sekolah dengan cara apapun, akhirnya bisa memperjuangkan mimpi dan cita-cita nya. Dia sadar dengan masih mengurus anak perempuan semata wayangnya, dia harus terus hidup dan berjuang untuk memberikan kehidupan untuk dirinya, keluarga dan anaknya.
Biodata Penulis
Fanny Indria Cahya Oktavianti adalah perempuan dari 3 bersaudara yang suka berpetualang dengan segudang pengalaman dan pengetahuan. Lahir di Kota Kediri di Tahun shio Naga, Hari Ke Uang Nasional. (30 Oktober 2000)
Menyukai hobi menulis dan membaca sejak SD dia bertekad bahwa semua orang bisa menulis dan bersuara, tanpa mengenal gender.
Meskipun dalam tahap belajar, dia berterimakasih atas semua orang sekitarnya yang memberikan warna dan cerita yang indah dari hidupnya.
"Kamu adalah diriku dari sisi lain" Kutipan yang selalu dia pegang dari Buya Husein.
0 Komentar