Dulu, kehidupanku sangat bahagia sekali. Bagaimana tidak, aku terlahir dari keluarga yang sangat mampu. Apapun yang aku inginkan, pasti selalu dikabulkan. Selain didasarkan pada pendapatan orang tua, juga karena aku adalah anak bungsu. Anak bungsu selalu dikaitkan dengan sifatnya yang manja, paling disayang, dan terhormat. Aku tidak tahu atas dasar apa anak bungsu mendapatkan pelabelan seperti itu. Rupanya memang benar, bahwa budaya timbul dari sebuah kebiasaan, hingga akhirnya menjadi terbiasa. Tunggu sebentar, sepertinya ada yang terlewati, bahwa hal yang mendasari dari sifat anak bungsu adalah kategori usia. Sangat disayangkan, jika kita sebagai orang berpendidikan terprovokasi oleh kebiasaan yang menjadi terbiasa.
Tak kenal, maka tak sayang. Siapa yang tidak tahu dengan slogan itu, yang mana sudah mendarah daging pada setiap orang. Sebuah slogan yang akhirnya membuat seseorang dituntut untuk berkenalan, lalu sayang. Pertanyaannya, lalu bagaimana dengan orang yang introvert? Apakah ada yang bisa mendefinisikan makna dari kata introvert? Sudahlah, itu hanyalah sebagai bagian dari sambutan hangat dariku untuk kalian semua. Perkenalkan, namaku adalah Kencana. Aku hanya memiliki 1 Kakak laki-laki yang bernama Ranu. Perbedaan usia kami hanyalah 1 tahun. Terakhir kali aku melihatnya, yaitu sejak tiga tahun yang lalu. Saat itu, ia melindungiku dari amarah Bunda dan selingkuhannya. Akibatnya, kami dipisahkan. Aku dibawa oleh orang suruhan Bunda. Sementara itu, Ka Ranu dibawa oleh selingkuhannya Bunda entah kemana.
Aku menjalani hari demi hari dengan susah payah, mulai dari merongsok, menjadi karyawan, hingga aku rela bekerja sebagai pemuas nafsu dari laki-laki hidung belang. Tidak ada pilihan terbaik dalam hidup. Jika itu ada, aku yakin semua orang akan memilih menjadi baik, tanpa harus menjadi jahat terlebih dahulu. Perasaan ingin balas dendam selalu tertanam di dalam hati, tapi lagi-lagi terkalahkan oleh pikiran, bahwa aku tidak akan terlahir di dunia, tanpa perantara seorang Ibu. Harusnya, antara pikiran dan hati saling berkesinambungan untuk menunjang hal-hal yang diinginkan.
“Na..., Kencana. Hei, ini orang dari tadi melamun terus.” Sudah menjadi kebiasaan Arum. Ia memang senang sekali mengagetkanku.
“Nggak usah ngagetin bisa kan? Untung gue nggak punya riwayat penyakit jantung. Coba kalau gue punya, bisa mampus lo.” Diam-diam, aku menyeka air mataku yang jatuh ke pipi.
“Judes banget jadi perempuan. Eh btw, lo lagi ngelamunin apa si, Na?” tiba-tiba, ia telah beranjak dari tempat duduknya dan berdiri dihadapanku.
“Cabut aja yuk, bentar lagi diskusinya dimulai nih.” Tegasku.
“Alasan yang tepat!” ucapnya.
Kami bergegas menuju forum diskusi yang terletak di Auditorium. Diskusi kali ini bertema tentang pelecehan dan kekerasan seksual. Entah sebuah kebetulan atau bagaimana, tapi ini persis seperti apa yang pernah aku rasakan. Dalam hal ini, aku tidak bisa menolak untuk membahasnya. Ya, pemantik pada diskusi kali ini adalah aku sendiri. Satu alasan mengapa aku menerima tawaran menjadi pemantik adalah karena aku ingin melindungi dan menyadarkan mereka, bahwa kita sebagai perempuan mempunyai hak atas jaminan perlindungan dan rasa aman, sebagaimana tercantum dalam pasal 28G (1). Perempuan identik dengan sifatnya yang lemah lembut, karenanya ia bisa dipandang menjadi aib, jika mengalami kekerasan seksual, seperti pemerkosaan. Pada intinya, perempuan dilarang bungkam karena kalau semakin bungkam, pelaku terus berkeliaran dan merebut hak kita sebagai perempuan.
Aku meluruskan kaki. “Huff, akhirnya selesai juga diskusinya.”
Surya menghampiriku dengan melebarkan senyumnya. “Kamu melakukannya dengan sangat baik, Na. Aku yakin, tidak semua perempuan dapat melaporkan kasus tentang pelecehan dan kekerasan seksual, kecuali kamu.”
“Terima kasih telah menghiburku.”Sahutku dengan senyuman tipis.
“Sudah kewajibanku. Terima kasih juga, kamu mau bangkit dan melaporkan kasus ini kepada pihak yang berwenang.”
Siapa yang tidak tahu Surya. Surya merupakan ketua BEM Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya. Tak heran, kalau ia dijuluki sebagai Mas Sosial karena kerap kali mengangkat isu-isu sosial yang sedang terjadi dalam diskusinya. Usianya yang muda diantara para ketua BEM seluruh fakultas, bukan menjadi halangan untuk malu berkarya. Sampai sekarang, aku tidak tahu, mengapa Surya memilihku untuk menjadi kekasihnya. Dilihat dari latar belakang aku yang bukan siapa-siapa, bahkan untuk disebut sebagai manusia saja, aku merasa sangat beruntung, apalagi disebut seorang perempuan. Bagiku, Surya bukan hanya sekadar pacar, tetapi sebagai pengganti dari sosok orang tua dan Kakak. Berkat Surya juga, aku dapat melaporkan kasus pemerkosaan setelah dua tahun dipendam sendiri.
Hari ini, tepatnya tanggal 24 Mei 2019 adalah hari dimana, aku dan Kakak dipisahkan. Setelah lebih dari tiga tahun kejadian itu, aku hidup sendiri dengan suka dan duka, tanpa kehadiran keluarga. Apakah aku boleh iri? Apakah aku boleh dendam? Aku hanya ingin merasakan, bagaimana rasanya ditelepon oleh Bunda atau Papah karena pulang larut malam. Aku hanya ingin merasakan, bagaimana rasanya berantem karena mengambil makanan, menunggu aku selesai dandan, dan hal-hal kecil lainnya bersama Kakak. Ah sudahalah, untuk apa aku berharap. Percuma juga aku berharap, karena memang tidak ada yang bisa diharapkan untuk mewujudkan sebuah harapan.
Tiba-tiba, aku teringat kejadian itu.
Aku tak punya pilihan lagi, selain menunggu Ka Ranu sampai di rumah. Sesekali, aku mengecek ponsel dengan beharap Ka Ranu membalas pesanku. Rumah yang dulu diisi oleh suasana kebahagiaan, sekarang berubah menjadi suasana mencekam.
“Ka Ranu lagi di mana? Cepat pulang...!” teriakku di sela isak tangis.
“Na..., Kencana..., tolong jangan panik dulu ya. 15 menit lagi, Kakak sampai di rumah.” sahut Kak Ranu dengan suara lemah lembut.
“Ka Ranu..., Ena takut..., Ena takut karena Bunda marah-marah sama Ena. Ena diancam Bunda. Bunda bilang, Ena mau dibawa sama laki-laki yang sekarang datang ke rumah.”
“Nomor yang Anda tuju, sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan...”
Aku mencoba terus telepon Kakak, tapi jawabannya masih sama, yaitu jawaban dari operator. Saat itu, aku tidak peduli kalau Kakak sedang mengemudikan mobil. Aku hanya mencoba menghilangkan rasa takut dengan telepon Kakak. Ka, jangan lama-lama di jalan. Hatiku semakin cemas.
Akhir-akhir ini, aku terus melamun dan tidak fokus.
“Na, kita satu kelompok nih. Na..., are you okay?” Icha memastikan kondisiku.
“Eh, Icha”. Sahutku dengan pelan. Lagi, aku nggak bisa membendung air mata ini.
“Na..., you’re the best.”
Langit yang semula cerah, berubah menjadi gelap, seperti apa yang sedang aku rasakan. Akhirnya, aku nggak bisa membendung air mata lagi dan terpaksa harus menumpahkannya. Di pelukan Icha, air mataku semakin tumpah. Tiga puluh menit berlalu. Perlahan, Icha menjelaskan, bahwa ada sebuah tugas dari salah satu mata kuliah. Ah paling juga tugasnya disuruh membuat artikel lagi, tapi ternyata dugaanku salah. Tugas kali ini sangat berbeda dan membuatku kembali menumpahkan air mata. Tugasnya adalah mengunjungi, sekaligus wawancara dengan salah satu Pekerja Seks Komersial (PSK). Mau nggak mau, aku harus mengiyakannya karena ini sebuah tuntutan. Untungnya, Surya dan Arum bersedia menemaniku.
Singkat cerita, kami sudah berada di tempat Pekerja Seks Komersial (PSK). Betapa kagetnya diriku kala mengetahaui, bahwa pemilik tempat itu adalah Bunda. Aku bertanya kepada salah satu karyawan, di mana keberadaan Bunda. Sesampainya di tempat Bunda, aku nggak bisa membendung air mata dan menahan emosi.
“Bunda nggak tahu, bagaimana aku berusaha bangkit. Bunda nggak tahu, bagaimana rasanya dianggap sebagai perempuan yang sudah tidak perawan lagi. Bunda nggak tahu, bagaimana rasanya menjadi konsumsi publik. Bunda nggak tahu, bagaimana rasanya ketika kasus pemerkosaan yang menimpaku terbongkar. Bunda nggak tahu, bagaimana rasanya aku ditolak berkali-kali untuk masuk ke kampus dan organisasi.” aku tak peduli lagi, bahwa dia adalah Bunda. Emosiku menyala seperti bara api dan diiringi gerimis luruh dari kelopak mataku tanpa henti.
“Apa lagi yang mau kamu katakan?” Bunda menatapku dengan tegas, sambil beberapa kali mengeluarkan kepulan asap rokok, seolah-olah tidak ada yang terjadi.
“Cukup. Apa yang aku katakan, tidak akan berarti bagi seorang Ibu yang dengan teganya menyuruh orang untuk menjamah tubuhku demi memenuhi hawa nafsu semata. Dasar biadab!” teriakku kencang.
“Kencana..., tahan emosi, Na, tahan, istighfar...” Tiba-tiba, Arum, sahabatku, merangkulku dari belakang.
“Kamu tahu ini siapa?” Ia menunjukkan sebuah foto di depan wajahku.
Tangangku mengepal. Bibirku tiba-tiba bisu. Aku kembali terisak sambil menunduk.
“Ka Ranu... Ka Ranu, dimana Kakakku?” gumamku lirih.
“Kalau kamu mau tahu dimana keberadaan Kakak kesayanganmu itu, Bunda tunggu di Ranukumbolo tanggal 23 Mei 2020. Ingat, kamu harus sampai di sana tepat pukul 08.00 WIB. Kamu nggak boleh terlambat, juga kamu nggak boleh terlalu cepat. Semoga keberuntungan dapat memihakmu.”
“Apa maksudmu?” Tanyaku heran
“Kamu akan tahu bagaimana kondisi Kakakmu, setelah sampai di Ranukumbolo.” Jawab ia dengan senyum licik.
“Bullshit.” Aku kembali meronta.
Tentang Penulis
Penulis cerpen ini adalah Arini Rosantyka Dewi. Ia lahir di Cirebon, 24 Agustus 1999. Arini Rosantyka Dewi merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Sekarang, ia berstatus sebagai seorang mahasiswa jurusan Tadris Bahasa Indonesia. Aku bukan seorang penulis yang baik dan benar, melainkan aku mencoba untuk mengetahui bagaimana caranya menjadi penulis yang baik dan benar. Aku biasa mendapatkan ide untuk menulis ketika berada di kamar mandi. Salah satu hobi anehku adalah mengamati orang lain. Dengan mengamati, aku dapat mengetahui, apakah ia termasuk ke dalam kategori seseorang yang harus diberi jantung atau hati. Seperti apa yang sudah disampaikan di atas, bahwa tujuanku membuat cerpen dengan tema ini adalah karena perempuan harus sadar, bahwa ia mempunyai hak atas jaminan perlindungan dan rasa aman. Terelebih lagi, perempuan harus sadar kalau dirinya adalah perempuan.
0 Komentar