Hamid duduk di kelas XII SMA yang tak lama lagi akan menghadapi UN. Hamid adalah kakak dari dua bersaudara. Dia  mempunyai seorang bapak yang bijaksana dan tangguh, bagi Hamid bapaknya adalah seorang pahlawan yang sangat mulia, yang tidak pernah kenal lelah untuk selalu membahagiakan anak dan istrinya. Dan tak lupa Hamid juga  mempunyai seorang ibu yang sabar dan tabah dalam menghadapi kehidupan. 

Pada subuh hari yang sejuk Hamid terbangun dari tidur, lalu dia bergegas menuju kamar mandi setelah itu bersiap-siap untuk melaksanakan solat subuh. Setelah melaksanakan solat subuh. Pagi haripun tiba, perut Hamid yang belum makan dari tadi sore terasa lapar sekali. Namun, Hamid melihat di dapur tidak ada makanan sedikitpun. Tiba-tiba Hamid melihat ibunya yang sedang berjalan menuju Hamid yang sedang asik duduk didepan teras rumah.  “Sedang apa anak ibu yang tampan ini?” ucap Ibu Hamid dengan candaannya. “Eh…ibu, enggak bu. lagi duduk saja menghirup udara yang segar ini” saut Hamid dengan wajah yang berpura-pura ceria, tetapi kenyataannya sedang menahan lapar.

Tiba-tiba raut wajah Ibu Hamid mendadak sedih, lalu berkata pada Hamid. “Nak maaf hari ini ibu tidak bisa membuatkan sarapan dan memberi bekal kesekolah untukmu, sebab ibu tidak mempunyai uang, ayahmu belum pulang”. Hamid yang tidak mau menambah beban orang tuanya pun menjawab “Iya bu tidak apa-apa, lagi pula aku masih mempunyai uang bekas kemarin” padahal saat itu hamid tidak mempunyai uang. Mendengar sautan Hamid seperti itu, ibunya menjawab “Alhamdulillah kalau begitu nak”.

Setelah itu Hamid segera bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, Setelah semuanya sudah rapi. Hamid menghampiri ibu yang sedang sibuk mencuci baju di kamar mandi. “Bu aku berangkat ke sekolah dulu ya” ucap Hamid pada ibunya. “Iya nak, sekolah yang rajin ya.. jadilah kebanggaan keluarga” saut Ibu. “Baik bu, do’akan Hamid semoga bisa jadi orang yang sukses, Assalamualaikum” saut Hamid. “Ibu do’akan kamu selalu nak, Waalaikumsalam hati-hati di jalan nak”.

Hamid tetap semangat berangkat kesekolah walaupun tidak membawa bekal. Di sekolah Hamid merupakan salah satu siswa yang aktif, nilai akademiknya cukup bagus. Karena Hamid mempunyai cita-cita yang besar yaitu ingin sekali setelah lulus nanti melanjutkan keperguruan tinggi lalu menjadi orang sukses.

Seiring berjalannya waktu serangkaian ujian untuk kelas 12 telah dilewati oleh Hamid, dan Hamid pun lulus dari SMA nya. Tibalah waktunya untuk Hamid berpikir, Setelah lulus SMA kuliah atau kerja? Tentunya jika boleh memilih, Hamid akan memilih kuliah. karena kuliah merupakan cita-cita Hamid sejak dulu. Tetapi hati kecil Hamid menyadari, bahwa perekonomian orang tuanya sangat tidak memungkinkan. Lalu dengan pemikiran yang matang, hamid memberanikan diri berbicara di hadapan kedua orang tuanya, meminta izin untuk berkuliah. “Pak... Bu… anakmu ini sudah lulus SMA, Hamid ingin sekali melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu di perkuliahan. Agar Hamid bisa menjadi orang sukses. Hamid berharap semoga bapak dan ibu mengizinkan keinginan Hamid”.  Bapak Hamid yang baru saja pulang membecak ditemani dengan ibu yang duduk disampingnya, menjawab. “Hamid... kamu ini bukan anak orang kaya, bapakmu ini hanya seorang tukang becak tidak mungkin bapak sanggup membiayai kuliahmu. untuk makan saja susah apalagi membiayai kuliahmu. Lebih baik kamu kerja saja, bantu bapak membiayai sekolah adik-adikmu”. Mendengar ucapan bapaknya yang seperti itu, betapa sedihnya Hamid. cita-cita yang selama ini di inginkan seperti dipatahkan begitu saja. Tetapi Hamid sadar, memang benar apa yang dikatakan bapaknya. dengan berat hati Hamid menjawab “Baik pak, kalau memang itu kemauan bapak akan Hamid turuti”.

Setelah berbincang-bincang dengan bapak dan ibunya, Hamid menuju kamar dengan penuh rasa kecewa. Tetapi Hamid yakin sebenarnya bapak dan ibunya tidak tega melihat ia tidak bisa melanjutkan kuliah, karena ia tahu orang tua mana yang tidak mau membiayai kuliah anaknya. tetapi karena keadaan perekonomian yang sulit, mereka memaksakan untuk tega tidak mengizinkan Hamid kuliah. 

Beberapa hari kemudian, pada malam hari yang sunyi Hamid merenung dan berpikir bagaimana caranya agar ia bisa kuliah. tetapi tidak dari biaya orang tuanya. Akhirnya setelah berpikir panjang Hamid memutuskan untuk mencari sebuah pekerjaan, dengan tujuan setelah mendapatkan pekerjaan uangnya akan ditabung untuk biaya kuliah.

Pada pagi harinya, tak menunggu waktu lama Hamid segera mencari sebuah pekerjaan. Dia  sudah mengelilingi beberapa perusahaan. Tetapi, betapa sulitnya mencari pekerjaan. Tak ada satupun perusahaan yang mau menerima Hamid untuk bekerja. Akhirnya Hamid melihat ada sebuah proyek bangunan, dia mencoba melamar pekerjaan di proyek bangunan. Setelah dicoba, Hamid diterima untuk bekerja di proyek bangunan. Ia sangat bersyukur, walaupun ini pekerjaan yang berat tetapi ia ikhlas, karena ini adalah pekerjaan yang halal. Dan mulai besok Hamid sudah boleh bekerja di proyek bangunan tersebut.

“Assalamualaikum bapak-bapak, perkenalkan nama saya Abdul Hamid. saya karyawan baru di proyek ini” ucap Hamid pada bapak-bapak. “Waah... masih muda sekali karyawan yang satu ini, pasti kerjanya sangat gagah. Salam kenal dari kami ya semoga betah di proyek ini" Saut bapak-bapak dengan penuh hormat. “Hehe bapak-bapak ini bisa saja, Amiin... Semoga saya dapat bekerja dengan rajin di proyek ini ya bapak-bapak” saut Hamid. “Amiin... baiklah kalau begitu mari kita bekerja” saut bapak-bapak.

Setelah satu bulan Hamid bekerja di proyek bangunan tersebut, Akhirnya Hamid menerima gaji pertamanya. Gaji pertamanya ini diberikan untuk kedua orang tuanya dan biaya sekolah adik-adiknya. Lalu Hamid bekerja kembali seperti biasanya, sampai akhirnya Hamid menerima gaji kedua. Gaji kedua ini di peruntukkan untuk niatnya yaitu biaya kuliah. 

Keesokan harinya Hamid mendatangi sebuah kampus swasta untuk daftar kuliah. Dalam perjalanan menuju kampus tersebut betapa bahagianya hati Hamid, karena ia bisa berkuliah. Sesampainya di kampus. “Silakan masuk dek, ada yang bisa kami bantu?” ucap salah satu admin kampus tersebut. “Terima kasih ka.. jadi  kedatangan saya kesini, untuk mendaftar kuliah di kampus ini” saut Hamid. “Oh baik de... akan segera kami proses, silahkan ditunggu”. “Baik ka, terima kasih” saut Hamid dengan wajah yang gembira.

Setelah menyelesaikan proses pendaftaran, Hamid pun mulai besok sudah bisa berkuliah. Jadwal kuliah hamid pada hari jum’at, sabtu dan minggu. Selebihnya Hamid mengisinya dengan bekerja di proyek bangunan tersebut.

Tahun demi tahun telah ia lewati, sampai pada akhirnya ketika Hamid menduduki semester lima, ia merasa bosan dan lelah melakukan kegiatan sehari-harinya dengan bekerja di proyek bangunan sambil berkuliah. Lalu Hamid mencoba mencari pekerjaan kembali di sebuah perusahaan, ia tetap optimis walaupun beberapa kali mencoba ditolak oleh perusahaan. Berkat kerja kerasnya, Hamid diterima untuk bekerja di sebuah perusahaan besar. Dia sangat bersyukur diterima diperusahaan besar tersebut, dia pun menekuni pekerjannya dengan giat dan jujur. 

Suatu ketika perusahaan tempat Hamid bekerja mengalami kemunduran. Akibatnya, terjadilah pengurangan karyawan. Perasaan Hamid cukup cemas, ia takut dirinyalah yang menjadi salah satu dari karyawan yang akan dikurangkan itu. Tetapi walau keadaannya seperti itu Hamid tetap bekerja dengan giat. Sampai akhirnya ia lulus dari perguruan tinggi, dengan gelar Sarjana Ekonomi. Tanpa di sangka-sangka atas kejujuran dan kerja keras Hamid di perusahaan tersebut, Akhirnya perusahaan mengangkat Hamid menjadi Manager Perusahaan. Setelah pengangkatan Hamid sebagai manager perusahaan, perusahaan ini menjadi lebih maju dan sejahtera.

Betapa bangganya orang tua Hamid yang hanya seorang tukang becak, melihat anaknya sukses, menjadi seorang Manager Perusahaan. Akhirnya Hamid si anak yang patuh terhadap kedua orang tuanya ini, mampu mengubah perekonomian keluarganya menjadi lebih sejahtera. Hamid juga mampu membiayai adik-adiknya sekolah hingga kejenjang perguruan tinggi.



BIOGRAFI PENULIS

Wartinah Fauzi lahir pada 30 Oktober 1999 di Kabupaten Bekasi. Penulis merupakan mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon, jurusan Tadris Bahasa Indonesia semester 4. Sekarang ini penulis sedang merantau untuk menempuh pendidikannya di Jl. Kalikoa, Kota Cirebon. Alamat asal penulis di Jl. Sukatani, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi. 

Penulis menempuh pendidikan MI di MI Nurul Falah, Sukakarya. Lalu melanjutkan MTs di MTs. Al-Jihadiyah, Sukatani. Lalu melanjutkan pendidikan MA di MAN 1 Bekasi. Penulis merupakan anak pertama dari 4 bersaudara. Adapun social media penulis yang bisa di hubungi oleh kawan-kawan yaitu, E-mail: tinahtinah148@gmail.com, Instagram: @wartinahaha, Twitter: @warwerworrr.