Kehangatan sore musim dingin menyelimuti puncak-puncak Ciremai yang terletak di Kuningan, gunung tertinggi di Jawa Barat. Mungkin diperlukan jarak dan waktu yang tidak sebentar untuk memahami bahwa alam semesta punya cerita dan tak pernah berhenti bergerak. Dia adalah seorang santri yang telah mencoba semua apa yang bisa ia coba di dunia ini, tapi selalu gagal. Namanya adalah Rahman.

“Mungkinkah cuaca selalu dingin, mendung begini?” tanyanya dalam hati sambil berjalan entah ke mana di atas bebatuan kaki gunung.

“Toloooonggggggg……” terdengar suara meminta pertolongan dari balik pepohonan yang rindang.

Bergegas ia mencari sumber suara tersebut.

“Sepertinya suara seorang gadis yang familiar” gumamnya dalam hati.

“Hey, sumber suaranya dari sana, ayo kita kesana” tepukan dari salah satu temannya yang sedang pergi muncak bersama.

Mereka pun berlari mendekati sumber suara tersebut.

“Indah? Ada apa? Kenapa seperti ini?” tanya Ilham.

“Ceritanya panjang” sembari tersedu sedu gemetar takut menyelimuti badan Indah.

“Sudah, kamu jangan banyak tanya. Ayo kita cari tempat yang bisa didirikan tenda. Hari mulai gelap, kamu Ilham bantu Indah mendirikan tenda dan yang lain segera dirikan tenda untuk kita istirahat malam ini. Aku akan menggendong Vivi”  jiwa kepemimpinannya mulai terlihat darin seorang Rahman.

“Baik” jawab serentak.

Sembari menelusuri jalan yang sedikit licin dan terjal ditengah hutan, Rahman tak sedikitpun memalingkan pandangannya kepada Vivi. Kekhawatirannya sangat terlihat jelas hingga pada akhirnya mereka menemukan tempang untuk mendirikan tenda. Ada yang mendirikan tenda da nada yang membuat api unggun dan menyiapkan makanan karena hari mulai gelap. Rahman yang begitu peduli kepada Vivi berusaha untuk bias membuatnya terbangung dengan melakukan berbagai cara yang bias dia lakukan.

“Vi… Alhamdulillah akhirnya sadar juga” hembusan nafas menandakan ia begitu takut kehilangannya.

“Minum dulu Vi” salah satu sahabat Vivi yang memberikannya air minum.

Nampak Vivi yang kedinginan, tak sanggup Rahman melihatnya. Ia pun rela melepaskan jaketnya demi Vivi agar tak merasa dingin lagi. 

“Jangan Man, nanti kamu kedinginan bagaimana?”

“Aku engga papa, bajuku tebal, harusnya kamu tanya pada dirimu sendiri” sembari tersenyum dan mengelus kepalanya.

Senyum dari keduanya terlempar satu sama lain dengan pandangan yang tak pernah lepas.

“Ekhem.. Man ingat bukan muhrim, engga baik berpandangan seperti itu” celoteh Imam, teman Rahman yang ikut mendaki gunung.

“Astaghfirullah, maaf” sembari menundukan pandangannya terhadap Vivi.

“Sudah, ayo kita solat dulu lalu makan dan istirahat” ajak Dika.

Ibadah tetap harus dijalankan dimanapun tempatnya. Air secukupnya dan penunjuk arah mata angin yang belum tentu benar. Karena niat dan keyakinan seorang muslim akhirnya kita solatb dengan keadaan seadanya. 

Malam semakin dingin, tubuh pun mulai merasakan tusukan yang sangat hingga kedalam tulang. Sepertinya, suhu disini mulai minus. Tangan – tangan anak muda pun mulai melambai diatas api unggung sembari bersolawat dan berbincang hangat.

“Kamu mendaki hanya berempat? Dan itu tanpa seorang laki - laki?” tanya Rahman.

“Iya” sahut Humai, sahabat Vivi.

“Lalu bagaimana Vivi bisa pingsan?”

“Jadi seperti ini ceritanya, kita mendaki tidak hanya berempat berangkatnya namun berdelapan. Entah mengapa mereka jalan lebih dulu katanya kita bertemu dipuncak. Dan semua obat, makanan dan minuman bahkan jaket Vivi pun kebawa mereka. Vivi alergi dingin, kita kehausan sedangkan air hanya ada setengah botol yang tersisa di tas Yuni. Vivi tak minum karena dia tahu airnya tak akan cukup, akhirnya dia bilang aku engga haus. Namun, semakin jauh tubuh Vivi tak bisa lagi dikompromi, akhirnya ia pun pingsan karena dehidrasi dan kedinginan. Kita bingung harus apa, jadi kita berdoa sambil meminta tolong siapa tahu ada orang atau petugas hutan denmgar dan datang menolong kita. Kurang lebih seperti itu ceritanya, kita berempat sangat berterimakasih sekali pada kalian semua” sahut Indah.

“OOHHH…. Jadi gitu ceritanya, yasudah kalian lanjut mendaki bareng kita ajah?” ajak Ilham.

***

Jarak, waktu dan tenaga telah kita kerahkan semua, akhirnya tempat yang kita inginkan pun sampai pada titik puncak tertinggi. Dingin, lelah, bahagia bercampur menjadi satu dalam balutan kabut pagi hari. Beruntungnya kita sampai sebelum matahari merangkak keatas. Rasa syukur kita panjatkan lewat doa setelah solat subuh. Beberapa menit kemudian matahari mulai merangkak dan memancarkan sinarnya. Fabiayyiala Irobbikuma Tukadziban, Masya Allah sungguh indah ciptaan-Mu Ya Rob. Tak banyak kata yang bisa terungkap hanya lantunan tasbih dan rasa syukur yang begitu besar bisa menikmati indahnya alam semesta. Diatas ketinggian 1200 Mdpl gunung ciremai ini, kucoretkan sebuah cerita tentang ciptaan-Mu. 

Tiba – tiba terdengar gema kata I Love You yang bersumber dari sebalah kanan Vivi. Bunga yang Rahman petik dari atas gunung ini sebagai tanda ungkapan rasa sayangnya kepada Vivi.

“Vi, empat tahun aku menunggumu. Empat tahun aku berada dalam perasaan yang terbelenggu. Empat tahun aku merasa menjadi seorang yang pengecut. Empat tahun aku menyesal karena tak bisa ungkapkan rasa ini kepadamu. Aku takut Vi, aku takut kamu bersama orang orang lain dulu ketika aku datang. Aku takut kau akan menolakku karena kebodohanku yang sudah menyia nyiakan wanita sepertimu. Jujur saat itu aku sayang padamu, namun aku takut kau akan menjauh ketika tau semua itu Vi. Tapi aku lebih takut jika kau tahu setelah kau telah bersama yang lain. Maafkan aku Vi, maaf kan aku yang sudah membuat hatimu kacau. Aku sering datang dan pergi hingga kau pun bosan dan terbiasa dengan diriku yang sepeti itu. Aku banyak bercanda hingga ketika aku berbicara serius mengenai hatiku saat itu kau hanya merespon bahwa itu candaan. Sungguh Vi, saat itu serius. Tapi kamu cerita tentang nya pada saat itu dan membuat hatiku patah dan tak ingin meyakinkannya lagi. Namun, hari ini dipuncak Ciremai dengan ketinggian 1200 Mdpl diatas permukaan laut, dihiasi awan – awan beserta mentari harumnya bunga edelwis yang dibalut kabut. Aku Rahman Zaini ingin melamarmu. Aku ingin menjadikanmu sebagai Humairahku, perasaan ini tidak pernah berubah dari dulu”

“Rahman, terimaksih untuk semuanya. Maafkan aku pada saat itu. Aku juga menunggumu, dan sempat putus asa. Karena kamu tak kunjung datang, banyak laki – laki yang dekat denganku tapi aku belum bisa melupakanmu Man. Aku mau Man” 

Haru bahagia menjadi satu. Semua yang berada di atas puncak ikut terbawa arus perasaan. Jodoh memang benar dia akan pergi entah kemana lalu akan balik lagi kepada yang sudah menjadi jodohnya. Ciremai , 1200 Mdpl diatas permukaan laut menjadi saksi bersatunya dua insan.

Tentang Penulis :


NOVI PUJIANTI

Lahir di Kota Cirebon, Indonesia, 13 November 1999. Novi atau Mpi adalah panggilan akrabnya. Dia adalah Mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Hobinya menulis cerpen, quotes maupun puisi. Beberapa cerpen yang dia tulis telah dibukukan dalam buku antologi. Selain itu ia aktif dalam berbagai kegiatan dikampus. Ketertarikannya dalam menulis dimulai sejak ia kelas 12. Karena motto hidupnya adalah “Do your best and your dream will come true”.