Sabtu, 2 November 2019
Ayam berkokok di pagi hari,
Seiringan dengan sejuknya udara pagi ini,
Seolah memberikan sinyal dukungan atas kehidupan hari ini.
Aku, gadis kecil siswi kelas 8 Sekolah Menengah Pertama di Sleman Yogyakarta. Hari ini aku akan mengikuti perlombaan Tari Tradisional di salah satu Kompetisi Tari Tingkat Nasional. Sejak kecil aku sangat tertarik pada dunia seni, mulai dari seni lukis, tari, teater, dan lainnya. Aku sangat menyukainya.
Hari ini ada perlombaan tari dan untuk kesekian kalinya aku mengikutinya. Pukul 03:45 WIB aku sudah bangun untuk mempersiapkan segalanya hari ini, karena perlombaan akan dimulai pukul 10:00 WIB. Untuk kesekian kalinya aku selalu deg-deg’an saat akan berpentas, padahal ini bukan kali pertama aku pentas.
Namun seketika aku merasa bahwa badanku sangatlah berat, pusing, hingga aku mengeluarkan darah dari hidung. Ya memang sejak dulu aku tidak pernah bisa untuk capek, mengingat beberapa waktu yang lalu aku terlalu memporsir tenagaku untuk berlatih tari, hingga pagi ini tubuhku bereaksi. Karena ini ukanlah hal yang aneh bagiku, akhirnya sejenak aku mengistirahatkan tubuhku agar darah yang keluar bisa segera mereda.
Tapi ternyata tidak, sampai akhirnya Ibu masuk kedalam kamarku, memastikan apakah aku sudah bangun atau belum. Ternyata Ibu menemuiku sedang bergelut dengan tissue dan darah, dalam keadaan diriku yang sangat pucat. Karena darah yang telah ku keluarkan begitu banyaknya. Ibu pun segera memanggil Bapak dan Mas, Bapak pun kaget melihat kondisiku yang sangat mengkhawatirkan, lalu segera meminta Mas untuk menyiapkan mobil kemudian membawaku ke salah satu Rumah Sakit Islam di Sleman. Tidak terlalu lama waktu untuk kami sampai di Rumah Sakit tersebut.
Sesampainya disana kemudian aku dibawa menggunakan tempat tidur pasien dan kemudian dilarikan ke ruang IGD. Selama Ibu, Bapak dan beberapa Suster membawaku ke IGD, di waktu yang sama Mas segera menghubungi dokter yang menanganiku. Dokter itu kemudian masuk ke dala IGD tersebut, kemudian memeriksa keadaan kondisiku. Ternyata aku kehilangan banyak darah dan dokter meminta menyiapkan beberapa kantong darah untuk segera dilakukannya transfusi darah. Saat itu aku tak sadarkan diri. Waktu berjalan begitu cepat, aku pun selesai melakukan transfusi darah, dan aku pun tersadar.
Satu hal yang aku tanyakan saat aku tersadar. “Jam berapa sekarang ?” Saat itu jam menunjukan pukul 9:20 WIB, dan aku meminta kepada Bapak, Ibu, untuk membawa aku ke perlombaan tersebut. Aku memohon dengan sangat dan akhirnya setelah melalui negosiasi terhadap dokter akhirnya aku diberikan izin untuk meninggalkan Rumah Sakit, dengan menandatangani surat perjanjian.
Jam menunjukkan pukul 9:40 aku pun bergegas untuk berganti kostum dan segera bermake-up. Syukurnya aku mendapatkan nomor urut 25 dari 150 peserta. Waktunya sanagat cukup untuk mempersipkan segalanya.
Kini giliranku, dengan kondisi yang sangat tidak baik akhirnya aku memutuskan untuk menunaikan kewajiban ini. Pusing, lemas, bayangan blur, itu yang ku rasakan selama pentas berlangsung. Setelah pentas berakhir aku pun segera turun dari panggung dan ternyata kondisiku sangat tidak bersahabat dan akhirnya aku dilarikan kembali ke Rumah Sakit. Dari ruang IGD langsung dipindahkan ke ruang PICU. Kondisiku sangat sangat meburuk. Aku pun terbangun setelah kurang ebih 4 jam tidak sadarkan diri, dengan keadaan menggunakan bantuan oksigen.
Aku pun meminta maaf kepada semua pihak yang telah direpotkan terutama Ibu, apak dan Mas. Aku janji pada akan menyelesaikan pengobatan ini, dan cukup hal tadi yang terakhir, sebagai bentuk tanggung jawabku sebagai seniman kecil.
Sejak hari itu aku memutuskan untuk fokus pada kesembuhan ku. Aku sedih melihat Ibu, Bapak yang setiap hari tak kenal lelah menjagaku dan memberikanku semangat yang tak pernah berubah, ia ingin aku putri kecilnya mereka segera melewati ini semua. Terlepas dari segala macam jenis obat, jarum suntik, kantong darah, ruang ICU, ruang Kemo, dan lainnya. Saat semangat dari dalam diriku melemah aku selalu teringat akan semangat mereka yang sangat merindukan keadaan jauh sebelum ini semua terjadi.
Hari pun seiring berputar hingga tiba jadwal kesekian kalinya aaku kemo. Kemo hari ini berbeda dengan biasanya, kata dokter kemo kali ini akan mengakibatkan beberapa efek salah duanya ialah rambutku akan rontok dan membuat kulitku kering. Aku pun telah mengetahui hal tersebut sebelum dokter memberitahukannya kepada Ibu Bapak.
Sekuat tenaga aku berusaha menerima dengan lapang dada dan ikhlas atas segala efek yang dari kemo yang telahTuhan takdirkan dalam perjalanan hidupku. Puji Syukur Tuhan memberikan malaikat terindah dalam setiap kondisi. Segala resah, takut dapat ditangani dengan support dan dukungan malaikat terhebat dalam hidup ini.
2 jam sudah, dan akupun kembali ke ruang ICU. Kembali dengan menggunakan berbagai macam peralatan medis, yang awalnya terasa sangat sakit hingga akhirnya menjadi sebuah yang biasa aja.
Hari pun terus berputar dan seiring berjalannya waktu efek kemo itu muai bereaksi, hingga menghentikan hobiku menulis, karena aku sendiripun tak mampu menguasai diriku sendiri saat efeknya bereaksi.
Semoga tulisan ini bermanfaat, pesan aku untuk kalian “Pertama, Bersyukur atas nikmat sehat, sebab banyak yang menginginkan hidup sehat seperti kalian. Kedua, Apapun tugas kalian dalam kondisi apapun kalian tunaikan tanggung jawab kalian. Terakhir, Sayangi orang tua kalian yang telah berjuang memberikan segalanya atas kebahagiaan dan kehidupan kalian”
*SELESAI*
A.Syaf.
Biografi
Nama : Anisa Syafitri
TTL : Banjar, 05 November 2000
Alamat : Perum Graha Permata Pelangi 2, Telaga Murni, Cikarang Barat, Bekasi
Pendidikan : 1. Sdn Telaga Murni 03
2. Smpn 2 Cikarang Barat
3. MA Al Imaroh (IPA)
4. IAIN Syekh Nurjati Cirebon (PGMI)
Hobbi : Gambar, Nyanyi, Nulis, Edit Video
Cerita yang sedang di buat di Wattpad
My Journey
Perjalananku
My Diary
0 Komentar