Jum'at, 21 Januari 2022. Biro Keagamaan dan pengabdian masyarakat PMII Rayon Pelangi Tarbiyah Komisariat IAIN Syekh Nurjati Cirebon, gelar gerakan sowan kyai yang ke tiga. Gerakan sowan kyai merupakan salah satu program yang diadakan oleh Biro Keagamaan dan pengabdian masyarakat, guna mempererat tali silaturahmi dengan para kyai-kyai NU yang berada di daearah Cirebon dan juga guna melestarikan budaya pesantren yakni 'sowan kyai'. Banyak yang mengapresiasi dalam keberlangsungan kegiatan ini, diantaranya dari jajaran alumni, Mabinray (majlis pembina rayon) dan lain sebagainya.
Pada gerakan sowan kyai kali ini, diberi kesempatan mengunjungi kediaman KH. Hasanudin Kriyani atau akrab dengan sapaan Abah Hasan. Beliau merupakan pengasuh Pondok As- Syakiroh Buntet Pesantren. Beliau juga merupakan orang tua kandung dari ketua umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) Muhammad Abdullah Syukri (Gus Abe). Kedatangan sahabat-sahabat PMII Rayon Pelangi Tarbiyah disambut hangat oleh Abah Hasan. Pada awal perbincangan, beliau memulai dari menanyakan satu persatu kepada sahabat-sahabat yang hadir pada saat itu, perihal semester di perkuliahan, program studi, dan asal daerah.
Abah Hasan sangat mengapresiasi betul kegiatan positif yang diselenggarakan oleh Biro Keagamaan, karena selain bertujuan 'ngalap berkah kyai' dan makan gratis, juga bisa kenal langsung dengan para kyai yang ada di Cirebon. Kemudian beliau melanjutkan dengan cerita masa kuliah. Semasa kuliah, beliau aktif di PMII hingga saat ini pun beliau masih melayani kader-kader PMII yang hendak meminta masukan berupa saran dan lain sebagainya. Ditengah-tengah cerita masa kuliahnya, beliau berpesan kepada sahabat-sahabat yang hadir agar selalu semangat dalam belajar. Selain itu, beliau juga membahas mengenai isu yang sedang hangat diperbincangkan oleh kader PMII. Yaitu masuknya PMII kedalam Banom NU. Ditilik dari sejarah singkat PMII, PMII menjadi Banom NU selama 11 tahun (1960-1972), kala itu PMII menjadi bagian Dependen (terikat) dengan NU. Melihat kondisi saat itu, NU masih menjadi parpol (Partai politik) dunia gerakan mahasiswa sudah semestinya jaga jarak dengan parpol. Oleh karena itu PMII memutuskan untuk Independen (tidak terikat) terhadap NU yang dikenal dengan "Deklarasi Munarjati". Deklarasi ini merupakan hasil Musyawarah Besar III tanggal 14-16 Juli 1972 di Munarjati, Lawang, Jawa Timur. Setelah NU kembali ke Khittah 1926, PMII menyatakan diri Interdepedensi (Kesalingbergantungan) terhadap NU. Deklarasi Interdepedensi ini terjadi pada Kongres PMII ke-X di Pondok Gede, Jakarta 1991.
"Mengenai PMII itu masuk kembali kedalam Banom NU, dikembalikan lagi kepada PB PMII, karena PBNU tidak mempunyai wewenang untuk mengembalikan PMII kedalam Banom NU, dan penentuan puncaknya di Kongres PMII yang akan datang sebagai penentu PMII akan kembali ke dalam Banom NU atau tidak" Ujar Abah Hasan.
Sebelum berpamitan dengan Abah Hasan, Abah memberikan oleh-oleh berupa wiridan, yaitu membaca "Hasbuna Allah wa ni'ma al-Wakil, ni'ma al-Maula wa ni'ma an-Nashier" . Wiridan tersebut bertujuan agar selalu diberi kekuatan dalam belajar, berdakwa, dan mengabdi di PMII.
Sekian..
Wallahu a'lam...
1 Komentar
Mantap sahabat 💙💛
BalasHapus