Ilustrasi: Shangyang Daffa Adji
kisah ini didedikasikan untuk saya pribadi. Menceritakan kisah seorang anak yang "nekat" untuk memilih berjauhan dengan orangtua nya.
8 Mei 2021,
memasuki semester genap perkuliahanku di salah satu Institur Agama Islam Negeri di Indonesia. Aku sangat semangat untuk melanjutkan pendidikan S1 setelah tamat SMA. kemudian, Aku pun bertekad untuk melanjutkan studi ku. Aku meminta restu kepada orangtua, saudara, dan juga teman.
Hanya menyampaikan informasi, tujuanku melanjutkan pendidikan bukan karena aku pintar, atau agar terlihat sedikit keren. Aku hanya bermodal "terlalu kepo pengen tahu gimana sih sekolah S1" itu, aku pun melanjutkan langkahku. sekalian, AKu ingin menguji kemampuan mandiri, hidup seorang diri di kota orang .
memasuki semester genap di tahun ini, aku merasa tumbuh menjadi sosok semakin dewasa. Dalam keterbatasan keuangan, pola hidup sehat, dan pola belajar yang seperti ini.
Selama diperantauan aku juga merasakan Kekecewaan, Kesedihan, Kemarahan dan perasaan yang lainnya. Kecewa karena aku sering sekali gagal pulang kerumah, sedih karena tak semua orang bisa memahami perasaan kita, marah karena merasa diremehkan, dan lain-lain. Hingga aku berada di posisi "orang yang mengenalku dengan baik pun juga ikut meremehkanku".
Akhirnya aku pun tersadar. bahwa hidup ini keras. Menggantungkan hidup dengan orang lain, bahkan teman terbaik atau pacar pun, tidak akan bisa membuat kita kuat, karena mereka itu bisa pergi kapan saja dan meninggalkan kita.
Merantau dikota orang tak hanya membuatku kuat dan dewasa, tapi juga mengajarkan kita arti dari rindu.
Rantau mengajarkan ku bagaimana indahnya arti rindu dan bagaimana menghargai setiap kerinduan. Kadang rinduku berteman dengan air mata. Rindu orangtua, rindu keluarga, rindu akan sahabat dan teman, juga rindu pada guru-guru. Semua rindu ini mengajarkan aku betapa kehadiran mereka sangatlah nyata dan berkesan. Dan "sesuatu akan dihargai saat ia pergi atau jauh darimu" adalah ungkapan yang sudah terbukti benar.
Aku juga merasakan bahwa "jauh" membuatku lebih ikhlas dalam berdo\"a,
jarak ini mengajarkan untuk menghargai di setiap pertemuan,
jarak juga mengajarkan untuk menuntaskan kerinduan dalam do\"a-do\"a,
jarak juga melembutkan hati dengan caranya sendiri.
Rindu, lahir karena cinta.
itulah esensi dari rindu yang sebenarnya.
Rindu bisa membuat orang menangis dan tertawa di waktu yang bersamaan.
Rindu juga menjadi obat segala luka.
Karena rindu itu bentuk ketulusan dari hati yang hampa.
Aku selalu yakin bahwa do\"a, sejauh apapun pasti akan sampai.
makanya, setiap rindu menyapa hati, maka do\"a adalah pelipurnya.
pilihan ini sudah aku ambil, aku lah yang harus menyelesaikannya.
Ayah Ibu,
Aku rindu...
Aku titipkan sekeping rindu pada Tuhan-ku dalam do\"a
dan ku yakin, Tuhan-ku akan menyampaikan kepadamu.
ku minta agar dia selalu menjagamu dalam tidur lelapmu.
Aku di sini baik-baik saja.
Penulis: Shangyang Daffa Adji
0 Komentar