Langit masih memancarkan pesona warna birunya, terik
matahari terus bersenandung ria menyinari bumi, tak pelak kehadirannya
menimbulkan pro dan kontra! Langit terlihat indah namun, teriknya lagi-lagi
menjadi penguji untuk bisa menatap keatas tempat ia berada. Matahari tak
selamanya bersinar terang, ada masa dimana ia harus beristirahat sejenak dan
memberi kesempatan pada cuaca baru menggantikan posisinya. Suara angin ribut
menerbangkan ranting pepohonan, menjatuhkan dedaunan. Gemuruh petir bermain
bersama kilatan cahaya. Tetesan air berjatuhan mengisi
telaga,danau,laut,samudra dan berbagai wadah yang bisa diisi dengan kesejukan
dan kebeningannya.
Di sudut ruang, kita hanya bisa diam bersembunyi
menutup telinga, menutup mata berharap badai tersebut segera berlalu, dan
menantikan buah dari cuaca tersebut! Ah, badai itu mungkin sudah pergi, kali
ini kita membuka jendela dan menatap keatas langit, namun warna kelabu masih
terlihat pekat, gerimis air yang jatuh masih terasa meninggalkan jejaknya!.
Matahari perlahan naik memunculkan sinarnya, walau masih malu tetapi ia
perlahan mengganti warna langit dan saling menyesuaikan diri. Kumpulan burung
keluar dari sangkar mendendangkan kicauan merdunya! Seakan ingin memberi
isyarat bumi tersenyum kembali.
Terlihat dari kejauhan sebuah lengkungan, lambat laun
semakin melebar satu per satu ia menampakkan warna warninya. Cahayanya terus
membawa tujuh warna ia seakan menjadi milik kita, buah dari setiap kesabaran.
Ia seperti sahabat, mengganti ketakutan menjadi rasa bahagia, nengganti gelap
menjadi terang, hiasan terindah yang sekali hanya akan muncul setelah hujan
berlalu. Mata terus menerus memandang fenomena tersebut seakan merasa berat
ketika hilang. Pesonanya selalu dirindukan, ia tetap dinanti karena
kemunculannya menjadi sahabat pelipur
lara, sahabat yang membawa pesan agar tak menyerah pada keadaan demi menanti
lembaran-lembaran yang jauh lebih indah dalam kehidupan.
Penulis: Rofik Hijazi

2 Komentar
Kerennn sahabat
BalasHapusKerennn sahabat
BalasHapus