Ilustrasi: www.antvklik.com

 

Langit masih memancarkan pesona warna birunya, terik matahari terus bersenandung ria menyinari bumi, tak pelak kehadirannya menimbulkan pro dan kontra! Langit terlihat indah namun, teriknya lagi-lagi menjadi penguji untuk bisa menatap keatas tempat ia berada. Matahari tak selamanya bersinar terang, ada masa dimana ia harus beristirahat sejenak dan memberi kesempatan pada cuaca baru menggantikan posisinya. Suara angin ribut menerbangkan ranting pepohonan, menjatuhkan dedaunan. Gemuruh petir bermain bersama kilatan cahaya. Tetesan air berjatuhan mengisi telaga,danau,laut,samudra dan berbagai wadah yang bisa diisi dengan kesejukan dan kebeningannya.

Di sudut ruang, kita hanya bisa diam bersembunyi menutup telinga, menutup mata berharap badai tersebut segera berlalu, dan menantikan buah dari cuaca tersebut! Ah, badai itu mungkin sudah pergi, kali ini kita membuka jendela dan menatap keatas langit, namun warna kelabu masih terlihat pekat, gerimis air yang jatuh masih terasa meninggalkan jejaknya!. Matahari perlahan naik memunculkan sinarnya, walau masih malu tetapi ia perlahan mengganti warna langit dan saling menyesuaikan diri. Kumpulan burung keluar dari sangkar mendendangkan kicauan merdunya! Seakan ingin memberi isyarat bumi tersenyum kembali.

Terlihat dari kejauhan sebuah lengkungan, lambat laun semakin melebar satu per satu ia menampakkan warna warninya. Cahayanya terus membawa tujuh warna ia seakan menjadi milik kita, buah dari setiap kesabaran. Ia seperti sahabat, mengganti ketakutan menjadi rasa bahagia, nengganti gelap menjadi terang, hiasan terindah yang sekali hanya akan muncul setelah hujan berlalu. Mata terus menerus memandang fenomena tersebut seakan merasa berat ketika hilang. Pesonanya selalu dirindukan, ia tetap dinanti karena kemunculannya menjadi sahabat  pelipur lara, sahabat yang membawa pesan agar tak menyerah pada keadaan demi menanti lembaran-lembaran yang jauh lebih indah dalam kehidupan.


Penulis: Rofik  Hijazi