Namaku Diva, Aku mahasiswa semester 6 kala itu, aku lahir dari keluarga menengah tapi disisi lain aku juga seorang yang urakan, mungkin suatu keapesan sendiri buat diriku karena merasa tersesat di kampusku sendiri dan apes pula untuk kampusku karena menerimaku sebagai salah satu mahasiswa dari ribuan mahasiswa lainnya. Dari semester kesemester kuliahku penuh dengan drama perlawanan sistem birokrasi  yang ada. Tepatnya yang tidak memihak pada mahasiswa. 

Kampusku ribet dengan birokrat yang kaya TAI, yang menganggap semua Mahasiswanya itu kaum borjuis, kampus yang rindang dengan beton-betonnya sekarang sedang dikoyak-koyak Mahasiswa sok aktivis itu, yah mau gimana lagi, mereka hanya bisa disetir layaknya sebuah boneka yang dimainkan anak kecil. Benar saja, ketika ditanya tentang permasalahan yang ada mereka ga tau apa-apa,  mereka lebih senang aksi di kampus menjadi tim pukul, dari pada harus mengkaji isu yang ada, bikin mumet kepala.

Waktu terus berlalu, lambat laun kulit pun semakin kisut tapi rekaman pemberontakan kampus saat itu masih tergambar jelas diingatan, mana lawan mana kawan. aku termasuk aktivis senior dalam kampus yang sekarang masih aktif mengondisikan kawan kawan aliansi mahasiswa, yang tentu akan selalu siap turun ke lapangan jika ada kejanggalan kampus. 

Sekitar ba'da maghrib, beberapa kawan Mahasiswa yang sebelumnya aku kenal datang kerumah, hanya sekadar melepas penat, bercerita dan berkeluh kesah dengan keadaan yang ada, mereka adalah Alfa, Aska dan Tanaya.

“silakan duduk cuk” aku menyilakan temen-temen duduk di ruang tamu.

“makasih mas” ucap salah satu dari mereka.

Ditemani malam yang dingin tak tertinggal alunan bunyi hewan malam menemani pembicaraan, kami mulai dengan obrolan yang ringan sampai dengan obrolan panas yang ada dilapangan malam itu.




 Ya.. alhasil setelah formula solusi sudah ditemukan,  dengan latah aku menceritakan keadaaan kampus pada saat di mana persetan dengan kebijakan yang ada. Saat di mana kampus beton itu tak waras dengan kebijakan, mulai dari pembayaran kuliah, pembangunan gedung yang baru beberapa tahun sudah minta dirobohkan dan dibangun lagi, sampai pelecehan  terhadap Mahasiswi, biadab  memang. Dari mulai Dosen sampai birokrat kampusnya, dimulai dengan iming-iming nilai tinggi dengan syarat, ahh benar-benar biadab, sampai anggaran dana yang tidak transparan dan entah larinya kemana.

Saat itu demo besar-besaran yang dihadiri hampir semua Mahasiswa karena adanya tuntutan nasib yang sama,  Jati nama mahasiswa baru jurusan teknik sipil yang baru juga aku kenal beberapa hari kebelakang, yang di mana dia sudah melek dengan kondisi kampus saat itu, dengan lantangnya dia orasi di depan istana rektor, aksi yang diketuai Sumar, yang aku tunjuk juga pada saat konsolidasi sebelum aksi. Sumar sebagai koordinator lapangan dan dia juga yang mempunyai gagasan mahasiswa untuk turun aksi, Alhasil dengan respon pejabat kampus yang kurang, bakar ban dan menyegel istana rektor pun terjadi, Mahasiswa tidak akan pulang sampai menang katanya, tapi setelah kejadian dihari itu, dimana kaum birokrat kampus masih tertawa kami segerombolan mahasiswa harus terpecah menjadi dua kubu, kubu pro birokrat dan kontra dengan birokrat.

Istriku datang membuyarkan dan mamaksakan aku berhenti bercerita.

“Monggo mas!”  ia menyilakan teh yang masih hangat itu untuk segera ku minum.

“Makasih bu” sautku diikuti dengan ucapan dari yang lain. 

Saat aku hendak melanjutkan cerita, tanaya bertanya, sambil memandang foto.

“mas, kalo itu siapa?” Tanya tanaya sambil menunjuk kearah seseorang didalam foto yang terpajang di ruang tamu.

“itu Sumar cuk, yang dulu menjadi korlap aksi” timpalku

“sekarang mas Sumar dimana mas?” tanyanya lagi secara spontan.

“Dia, dia sekarang ada di balik jeruji besi karena bekerja sama dengan birokrat kala itu” berat sebenarnya aku menjawab pertanyaan ini, tapi memang seperti itu kedaannya.


”Sampai kapan Sumar memeluk jeruji besi polisi, Mas?” tanya Tanaya. Sambil menaroh roko di asbak, aku menjawab” Sampai kapan-kapannya aku kurang tau, karena semenjak kejadian itu, diantara kita memang sudah hilang kabar, aku dengan rasa kecewa yang ada dan dia dengan rasa malu yang dibawa” 

“Oh, gitu. Mas sedekat apa sama Sumar?” tanya tananya,  sambil menghela napas dan mengusap muka, aku berusaha menceritakan kisah pilu, perjuangan, hingga senang dan berujung penghianatan” Sumar adalah seorang yang sedikit malas, tapi memiliki otak yang lumayan cerdas. Ia mengenal aku saat di organisasi intra kampus, dari organisasi itulah kita sering berbincang mulai dari hal-hal yang usang hingga hal-hal yang merangsang. Sesuatu yang menarik dari Sumar ialah keapaadaannya dan tak pernah dia keluhkan keadaan. Kronologis yang membuat ia terjerat kasih penjara adalah penghianatan kepada teman-teman aktivis karena menerima cicis dari jungjungan kaum sofis yang bengis. Kala itu Sumar tertangkap basah oleh teman ku yang juga peserta aksi, ia menerima manisnya transaksi dari orang-orang birokrasi.

Aku sendiri sampai sekarang masih bertanya-tanya kenapa dia mau melakukan itu dengan kawan seper juangannya, padahal ditempat diskusi kita biasa saja dan saling terbuka satu sama lain, hal ini yang sampai sekarang aku pikirkan.

Kala itu teriknya mentari, tebalnya nyali mahasiswa dan mahasiswi saling bernarasi di hadapan kantor birokrasi. Di temani gurihnya bau ban bakar, perjuangan terus berkelakar sebelum kebijakan picik dibakar. Aksi siang itu berjalan sesuai rencana karena birokrat kampus mau menyapa. 

“oke, tenang-tenang semua! Siapa yang menjadi wakil untuk bernegosiasi dengan Rektor dan jajarannya di dalam?” teriak Pak Satpam yang tangannya trus memeluk tongkat andalannya. Peserta aksi langsung mencari ahli negosiasi yang sudah ditatar saat pra aksi. Mendadak kerumunan sesak peserta terbelah menjadi dua seperti laut merah menyilakan Nabi Musa melewatinya. Ada dua orang yang dengan tatapan tajam melangkah menuju pintu istana. Dua orang itu ialah aku sendiri dan Sumar yang biasa disebut negosiator panturanisme. Aku dan Sumar bergegas melangkah masuk sambil melambaikan tangan ke teman-teman aksi sebagai tanda terima kasih serta meminta dukungan dari mereka. Di dalam ruangan rapat sudah duduk rapi barisan pejabat kampus, mereka mengucapkan selamat datang dan mempersilakan duduk pada kami. 

Setelah semua orang dalam ruangan duduk rapih, seorang berwajah ke arab-araban membuka rapat dengan mengucapkan salam dan sambutan kepada kita semua yang ada di ruangan termasuk aku dan sumar. Kemudian rektor mengambil alih kendali rapat negosiasi singkat cerita kita melayangkan tuntutan yang kita bawa berdasarkan data dan keresahan mahasiswa.

“sial!!” ucapku hingga mengagetkan temen-temen mahasiswa dan istriku yang ternyata ikut mendengarkan ku bercerita sedari tadi.

Sialnya aku terpaksa pergi ke toilet karena panggilan alam yang tak bisa ditahan lagi, dan yang tersisa diruangan dari perwakilan mahasiswa adalah Sumar, setelah kedatanganku dari toilet semuanya berubah drastis dari rektor yang berbicara layaknya bapa pada anaknya, dan Sumar sendiri bagaikan anak yang lugu, yang harus nurut dengan apa yang dikatakan orang tua pada anaknya.

“seperti itu kira-kira kejadiannya” ucapku pada Alfa, Aska dan Tanaya yang sembari tadi khusu mendengarkan ceritaku.

Aku hanya berpesan pada kalian bertiga Alfa, Aska dan Tanaya, saling percaya dan terbukalah kalian, yang tentunya tanpa bahasa kebohongan, saling menyemangati satu sama lain karena aku yakin terkadang harapan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, Jadilah Manusia yang filantropis!, ketika melihat kawula bersedih langsung meringis, melihat bourjuis bertingkah sadis langsung bersikap antagonis!, jangan perng menyerah dan menangis ketik justice dalam keadaan statis ke kaum apatis!. ingat harapan besar bangsa ini ada di tangan pemuda!











Tentang penulis

Ilham Nur Kartika Wisuda, ditakdirkan menjadi pemenang lomba balap sperma dirahim ibunda tercintanya, yang kemudian lahir pada hari Rabu, 19 Agustus 1998 dirumah ibu dari bapaknya. Anak ke dua dari kekasih yang sebelumnya juga pernah bercinta yaitu bapak Radiman dan ibu Umamah, pendidikan awal dimulai dari SDN 07 Ketanggungan Brebes, dilanjut MTsN Model babakan Tegal, dan istikomah di MAN Babakan Tegal. Sekarang duduk dibangku kuliah IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Singkatnya perkenalan ini sebagai pemantik, semoga api perkenalan ini bisa terjaga dengan media sosial contohnya.

IG : Ilham_nur_kw_19