“Mungkin kita bisa menulis seribu kata perpisahan. Namun yang kita rasakan hanya satu. Yaitu kehilangan. Kehilangan untuk selama-lamanya”
*****
Aku termenung dalam gemerlap cahaya bintang ini. Menatap indahnya nabastala malam kota kelahiranku. Merenung meratapi kemalanganku ini.
Ingatanku berputar pada seminggu yang lalu. Di mana aku yang baru saja berpisah dengan Kenzo, pacarku. Hmm … mungkin lebih tepatnnya sekarang mantan kekasih.
Dia memutuskanku begitu saja. Tanpa mengungkapkan sedikit kata. Bahkan selamat tinggalpun tak dia ucapkan.
Malang sekali bukan nasibku ini?
Bayangkan saja, kami tiga tahun bersama. Bertukar cerita dan mengukir kisah.
Banyak sekali kenangan yang sudah kami lewati. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat. Rasanya begitu sesak sekali ketika dia mengirimi pesan yang berisi, “Kita putus.” hanya itu kata terakhir yang diucapkannya. Berharap semoga semua ini hanya mimpi belaka, namun sayang seribu sayang nyatanya ini fakta yang kualami.
Aku meringis sendiri pada kisahku yang sangat miris sekali.
Takdir ternyata tidak berpihak padaku.
Aku menoleh saat bahuku ditepuk, “Udah jangan melamun terus. Bahaya Syakira malam gini nanti kesambet aja tau rasa.” peringat Meldi padaku.
Meldi duduk di sampingku sambil membawakan teh hangat. Ya, malam ini udara sangat dingin sekali. Sampai aku menggelamkan tanganku pada kantong jaket yang kupakai.
“Aku masih penasaran sama apa alasan dia mutusin aku gitu aja Mel.” curhatku pada Meldi.
Meldi menatapku lalu menyentuh kedua bahuku yang terbalut jaket, “Sya, lambat laun pasti kamu bakal tau apa alasannya. Mending sekarang fokus aja sama skripsi kamu. Aku tau kamu bakal seterpuruk ini. Tapi kamu harus pikirin diri kamu sendiri. Jangan egois Sya. Masa depan kamu lebih cerah. Kamu harus bangkit. Dah ya, aku pamit pulang udah malam.” nasihatnya padaku, lalu bangkit berdiri dan pamit pulang ke rumahnya.
Aku begitu bersyukur mempunyai teman seperti Meldi yang selalu ada saat aku terpuruk kaya gini.
Meldi benar aku harus bangkit kembali.
******
Setelah selesai bimbingan skripsi aku menuju ke kantin untuk sarapan karena tadi tidak sempat di rumah.
Tak sengaja mataku menatap sosok yang selama ini berkeliaran dalam pikiranku. Ya siapa lagi kalau bukan Kenzo.
Kenzo berjalan melewatiku begitu saja. Aku menatap punggungnya nanar. Kenapa dia tidak menyapaku atau sekedar memberi sebuah alasan padaku.
“Dulu kita sedekat nadi. Sekarang malah seperti orang asing,” lirihku sedih.
Tak terasa air mataku jatuh tanpa diminta.
Dengan cepat aku menghapusnya lalu menyelesaikan sarapanku ini dan pergi dari sini.
Aku butuh ruang untuk kesedihanku ini.
Di sinilah aku sekarang. Di rooftop kampus. Duduk menekuk kedua lututku dan menatap lurus ke depan. Tempat ini tempat ternyaman untuk menyendiri.
Tanpa sadar aku merasakan seseorang hadir di sampingku. Aku menoleh saat merasakan hembusan napasnya. Tak kusangka ternyata orang di sampingku adalah Kenzo.
“Mau apa?” tanyaku sambil nangis.
Dia hanya diam saja menatapku. Kami saling menatap diam hingga satu kata yang keluar dari bibirnya, “Maaf.” lalu dia pergi kembali meninggalkanku seorang diri.
Aku bingung dengan keadaan ini. Sebenarnya ada apa? Apa yang terjadi? Dan mengapa wajahnya terlihat kacau tidak seperti biasanya.
Wajahnya seperti menahan sesuatu tapi tidak sanggup mengungkapkannya.
Aku berlari mengejarnya sebelum ketinggalan jauh.
“Ken … Kenzooooo …!” teriakku keras.
Tapi dia tak sedikitpun menoleh. Aku masih terus mengejarnya sampai turun ke lantai bawah. Dia semakin lari menjauh dan aku yang terus mengejarnya. Banyak pasang mata yang memperhatikanku. Biarkan saja aku tidak peduli. Yang aku butuhkan sekarang hanya sebuah kejelasan. Apa aku salah meminta penjelasan darinya? Hanya itu yang aku inginkan. Aku berjanji setelah mendapat penjelasan darinya, aku akan menerimanya dengan berat hati dan melupakannya.
Saat aku masih saja mengejarnya tak sadar aku terjatuh. Kesandung kakiku sendiri dan nyungsep ke depan.
“Aw,” pekikku keras.
Kenzo langsung balik ke arahku. Dia membantuku untuk berdiri dan memapahku duduk di bangku yang tak jauh dari kami.
“Please, give me a reason Ken,” pintaku paksa.
Kenzo menatap manik mataku yang aku balas dengan wajah melas memohon.
“Aku belum bisa ngasih alasan ke kamu. Maafin aku Sya. Aku pamit.”
Kenzo meninggalkanku. Lagi-lagi hanya ini yang aku dapatkan. Percuma saja aku mengejarnya jika tak ada hasil.
Kenapa aku harus dihadapi situasi seperti ini tuhan?
Aku menatap nyalang kepergian Kenzo.
Sudahlah sepertinya aku emang harus nerima kenyataan pahit ini.
*****
Dua bulan berlalu ….
Aku yang baru saja keluar dari rumah terhentak ketika Meldi datang langsung menarikku cepat.
“Ada apa?” tanyaku bingung.
“Kamu akan tau jawaban dan alasan Kenzo.”
Aku diam menurutinya. Padahal aku sudah melupakannya perlahan.
Aku mengkerutkan wajah bingung. Kenapa Meldi membawaku ke pemakaman. Siapa yang meninggal? Aku melihat sekelompok orang yang baru saja meninggalkan pemakaman tersebut. Alisku semakin mengkerut ketika melihat kedua orang tua Kenzo.
Ada apa ini sebenarnya?
“Syakira,” panggil Ibu Kenzo.
Aku semakin bingung. Kenapa raut wajah Ibunya sangat sedih.
Aku langsung memoleh ke batu nisan yang terdapat nama Kenzo itu.
Bagai disambar petir mengetahuinya. Apa ini maksudnya? Katakan kalau ini bohong dan hanya prank.
Aku jatuh lemas dihadapan gumpalan tanah ini.
“Hiks … kamu kenapa ninggalin aku Ken. Kenapa Ken, kenapa? Kamu jahat hiks … katanya mau sama-sama terus. Tapi kamu malah pergi ninggalin aku. Kata pamit kamu bulan lalu ternyata pamit untuk selamanya hiks ….”
Pertahananku luntur. Aku menangis di atas pusaranya.
Ibu Kenzo memegang bahuku, “Kenzo sakit parah. Dia mengalami kanker otak stadium 4 sudah lama. Dia sengaja gak mau ngasih tau kamu. Dia gak mau buat kamu sedih dan tau. Makanya dia tiba-tiba akhirin hubungan kalian. Kenzo bilang katanya dia minta maaf. Dia sayang banget sama kamu. Dia juga berpesan semoga kamu mendapatkan yang lebih baik dari dia dan jagain kamu terus sepenuhnya.”
Aku semakin terpukul mendengar penuturan Ibunya. Jadi selama ini Kenzo sakit parah dan aku gak tau. Kenzo meninggalkanku untuk selamanya. Maafin aku Ken, aku sayang dan cinta kamu. Sampai kapanpun gak ada yang bisa gantiin kamu di hatiku.
Akhirnya terjawab sudah semuanya yang membuatku sedih dan belum bisa nerima kenyataan ini. Walau bagaimanapun aku harus belajar ikhlas menerimanya.
Sebelum aku pergi dari sini aku menyium nisan dan pusaranya.
Aku harus tegar dan kuat menerima semuanya.
Percayalah Ken, aku akan terus mengenangmu dalam hidupku. Walau raga kamu sudah tidak ada tapi jiwamu selalu ada di hatiku sampai kapanpun.
**SELESAI**
Biografi Penulis
Gadis bernama Bella Isnawati ini dilahirkan di Tasikmalaya, 23 Mei 2001. Penulis yang berasal dari Tangerang ini sedang menempuh jenjang pendidikannya pada Instansi IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Jurusan Pendidikan Bahasa Arab. Penulis sudah menyukai dunia literasi sejak masih duduk di bangku sekolahnya.
Penulis juga sudah berhasil menerbitkan sebuan novel dan beberapa antologi cerpen maupun puisi.
Kalian bisa mengenal lebih jauh penulis pada salah satu sosmednya.
Instagram : iznawathy_23
Wattpad : Bellznwti_
1 Komentar
ماشاءالله...ممتاز🤩
BalasHapus