Sumber Laduni.id
Beliau
tumbuh di lingkungan pesantren dengan latar belakang keluarganya yang mempunyai
sanad keilmuan yang panjang, ayahnya yang sekaligus menjadi guru pertamanya dan
dari bimbingan sang kakek yang bertanggung jawab atas pembentukan pengetahuan
islamnya. Menginjak usia 15 tahun, Hasyim Asy’ari muda memulai perjalanannya
untuk menimba ilmu ke berbagai tokoh di jawa timur dan madura yang di antaranya
tercatat; Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo, Pesantren Langitan Tuban, Pesantren
Trenggilis Semarang dan Pesantren Kademangan bersama KH. Ahmad Dahlan di bawah
pengajaran Sufi yang sangat di hormati, Syekh Kholil Bangkalan. Saat menempuh perjalananya
menimba ilmu, Hasyim Asy’ari muda singgah di Pesantren Siwalan yang pada saat
itu dipimpin oleh Kyai Ya’kub. Melihat etika dan potensi perkembangan
keilmuannya yang cemerlang dan mampu menerima ilmu dengan baik, Kyai Ya’kub menikahkan ia dengan putrinya,
Nyai Khadijah. kemudian beliau dibiayai oleh Kyai Ya’kub untuk beribadah haji dan
belajar di Mekkah (1891 M).
Selang
satu tahun di Mekkah, Hasyim Asy’ari kembali ke jawa karena, menerima kabar
bahwa istri dan anaknya yang baru lahir meninggal. Setelah tiga bulan, ia kembali
ke mekkah dan menimba ilmu kembali kepada Mahfudz Termas ( pacitan ). Mahfudz
Termas adalah guru jawi yang sekaligus mengajarkan kitab hadist standar karya
Imam Bukhrori ( Sahih Bukhari ), kepadanya ia belajar dan mampu menguasainya,
sehingga menjadi pakar yang otoritatif di bidang ini. Tidak hanya belajar jawi
dan hadits bukhori, ia juga belajar sufisme, khsusnya sufisme al-Gazali. Lebih
dari itu, ia juga menimba ilmu kepada Syekh Mahfudz, dan kepada seorang guru
yang ahli dibidang ilmu falak, ilmu hisab, dan fiqih madzhab Syafi’i, Syekh
Ahmad Khatib Al-minangkabawi ( meninggal tahun 1875 M ).
Setelah
perjalanan dalam belajarnya di mekkah ( selama tujuh tahun ), Hasyim Asy’ari
kembali ke tanah kelahirannya dan ikut andil sebagai ulama besar di Jawa Timur dan membantu kakeknya di Pesantren
Gadang. tak lama setelah membantu sang kakek, beliau mendirikan pesantren
Tebuireng dibantu Mbah Zahid pada tahun
1899 M / 1313 H dan mengajar hadist dan mempopulekannya. tidak seperti
kebanyakan pesantren lainnya yang hanya fokus dalam pengajaran tarekat saja. Di
samping aktif dalam mengajarkan ilmu Agama Islam khususnya di pesantren
Tebuireng, beliau juga aktif dalam kegiatan nasional. Pada 31 Januari 1926 M, beliau
bersama ulama-ulama besar lainnya mendirikan Jam’iyah Nahdlotul Ulama
(kebangkitan ulama) yang berideologi Ahlussunnah Wal jama’ah juga merupakan
suatu upaya melembagakan tradisi keagamaan yang di anut jauh sebelumnya untuk
mensejahtrakan Umat dan melepas belenggu dari para penjajah.
(Rizqy Muhammad Luthfy)
(Rizqy Muhammad Luthfy)
Referensi
- Ahmad, Fathoni . Senin 17 Februari 2020. Sosok
Kiai Asy’ari, Ayahanda Hadhratussyekh Hasyim Asy’ari. https://www.nu.or.id/2020/03/08/sosok-kiai-asy-ari--ayahanda-hadhratussyekh-hasyim-asy-ari
- Burhanuddin Jajat.2017.Islam dalam Arus Sejarah
Indonesia.Jakarta:Prenadamedia Group

1 Komentar
Nambah wawasan tokoh islam
BalasHapus