Ilustrasi Oleh Adrian

By: Bella Isnawati

Gadis dengan berambut di kuncir ke belakang itu sedang berjalan di koridor gedung fakultas kedokteran seorang diri. Gadis itu sengaja melewati gedung fakultas kedokteran karna hanya jalan ini yang mampu membuatnya cepat sampai di gedung fakultasnya yaitu fakultas pendidikan. Dalam hitungan lima menit ia harus sudah berada di kelasnya sedikit saja ia terlambat maka nilai ujiannya nol. Dosen mata kuliah yang di ujikan hari ini memang sangat kiler. Jika ada satu mahasiswa yang telat datang maka mahasiswa tersebut tidak boleh masuk ke dalam mata kuliahnya alias di usir.
"Duh tiga menit lagi ini gawat kalo sampe terlambat," gumam gadis tersebut.
Dengan jalan tergesa-gesa tanpa sengaja gadis yang di kuncir ke belakang itu tak sengaja menabrak seseorang.
Brak...!!!
"Maaf. Maaf gak sengaja saya," ucapnya meminta maaf.
Gadis itu kembali berdiri mengimbangkan tubuhnya.
"No problem it's ok," jawab orang itu.
Gadis berambut kuncir ke belakang itu seperti mengenal suara orang itu sangat familiar baginya. Ia ingin melihat orang itu namun wajahnya masih menunduk membersihkan pakaian sehingga gadis tersebut tak bisa melihat jelas orang tersebut.
Saat orang itu mendongakkan kepalanya lalu mereka saling kaget dan terkejut.
"Viona."
"Farel." kaget mereka berdua. Seolah tak percaya apa yang mereka berdua lihat ini bener-bener terjadi.
Yah gadis itu adalah Viona salah satu mahasiswi fakultas pendidikan dan orang yang di tabraknya tadi adalah Farel mantan kekasih dari Viona. Lebih tepatnya first love Viona.
Viona langsung meninggalkan Farel tanpa sepatah kata. Bukan tanpa sebab ia langsung meninggalkan Farel. Tapi karna ia sudah sangat telat sekali. "Semoga tuh dosen belum dateng,"  rapalnya dalam hati.
-
"Bu, es teh satu ya," ujarnya memesan.
Sambil menunggu minumannya datang Viona membuka laptopnya untuk melanjutkan tugas yang sempet tertunda. Kebiasaannya kalo tugas belum selesei maka ia akan pergi ke kantin mengerjakan tugasnya sambil meminum es teh yang bisa membuatnya lebih fresh sedikit.
"Ekhm." batuk seseorang menyadarkan Viona.
Gadis itu mendongakkan kepala setelah mengetahui orang itu ia kembali berkutat dengan tugasnya.
"Dari dulu kamu emang gak pernah berubah ya. Selalu aja serius fokus kalo ngerjain tugas, " ucap Farel berbicara.
"Gimana kabar kamu sekarang?" tanya Farel.
"Seperti yang kamu lihat ini," jawabnya cuek.
Viona tak mau terlalu manis untuk berbicara padanya walau Farel masih saja bersikap lembut saat bersamanya Viona tak mau hatinya jatuh kembali ke dalam pelukan Farel. Ia tak mau jatuh ke pesonanya lagi. Sudah cukup luka tiga bulan yang lalu ia rasakan. Ia tak mau membuka luka itu kembali. Ia harus bisa menjalankan semuanya. Ia harus bisa menerima dan mengikhlaskan Farel untuk wanita lain.
Walau pada hakikatnya Viona yang ingin mengakhiri hubungan ini tapi jauh di lubuk hati yang dalam ia masih sangat mencintai mantannya itu. Mereka memang saling mencintai. Dua tahun berpacaran bukan waktu yang singkat baginya.
Saat Farel mengajaknya untuk datang ke rumah memperkenalkan dirinya pada keluarga Farel. Awalnya Viona merasa senang dan bahagia karna akan di kenalkan pada keluarga kekasihnya itu. Namun jauh dari bayagannya. Kehadiran dirinya sangat tak di inginkan oleh keluarga Farel
terutama Ibu Farel yang tidak menyetujui jika anaknya mempunyai hubungan dengan dirinya dengan alasan 'Mamah itu pengen kamu nikah sama sesama dokter juga bukan berbeda profesi gini apalagi kamu sebentar lagi KOAS pokonya Mamah gak setuju kamu punya hubungan sama dia kamu harus nyari calon istri yang seprofesi juga sama kamu'.
Coba kalian bayangkan jadi Viona gimana hatinya saat kehadiran dirinya tidak di inginkan dan mereka tak di restui sama pihak keluarga cowo karena Viona bukan calon dokter melainkan calon guru. Gimana gak nangis batinnya. Itu sama aja dengan merendahkan harga dirinya.
Maka dari itu Viona langsung memutuskan hubungannya pada saat itu juga setelah di antarkan pulang Farel.
-
Di Taman...
Viona mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia menemukan sosok yang sangat ia kenali dan sangat hapal poster tubuhnya. "Farel," gumamnya lirih.
"Hai," sapanya.
"Hai juga," balasnya agak canggung.
Farel mulai memperhatikan Viona yang sedang memakan bubur itu. Ternyata masih seperti dulu. Lucu. Farel melihat ada sisa bubur di bibir Viona langsung membersihkannya dengan menyentuh area dekat mulutnya dan mengambil sisa bubur itu kemudian di buang olehnya.
"Lain kali kalo makan jangan nyisain Na!" peringatnya pada Viona dengan manis.
Viona di buat tercengang oleh perlakuan manis Farel padanya. Farel selalu saja seperti itu jika ada sisa nasi yang masih menempel di mulutnya.
"Makasih."
"Sama-sama. Nih buat kamu, " ucapnya sambil mengasih sebuah benda yang mirip dengan surat undangan pernikahan.
"Ini apa?"
"Baca Na. Kebiasaan nih makanya baca dulu sebelum nanya Viona," kata Farel gemas sendiri.
"Undangan pernikahan Farel dan Feby...," bacanya pelan. Namun sedikit kemudian Viona langsung menghentikan acara makanya dan fokus pada orang yang berada di hadapannya ini.
"Kamu mau nikah sama Feby?" tanyanya memastikan.
"Iya Na. Kamu datang yah," katanya, meminta agar Viona datang ke acara pernikahannya.
"Iya nanti aku dateng kok. Semoga bahagia yah Rel."
"Makasih Na. Tapi satu yang perlu kamu ingat Na. Aku masih mencintai kamu sampai saat ini." jujurnya.
"Kamu gak boleh gitu Rel. Kamu harus belajar mencintai orang lain. Sekarang kita udah beda."
"Tapi aku gak cinta sama dia Na. Aku sama dia di jodohkan sama orang tua kami berdua. Bukan karena saling cinta Na. Kenapa sih takdir kita seperti ini Na? Andai aku bisa mengganti takdir. Akan ku rubah takdirku hanya untuk bersamamu."
"Rel percaya suatu saat nanti kamu akan bisa mencintai dia. Cintai dia seperti kamu mencintai aku dulu. Terima dia apa adanya. Apalagi ini pilihan orang tua kamu pasti ini yang terbaik buat kamu,' ucap Viona menahan tangisnya.
"Tapi Na~"
"Gak ada tapi-tapian Rel. Dunia kita udah beda. Kamu harus mencintai dia mulai sekarang. Aku pamit ya mau pulang. Aku pasti dateng kok nanti." pamitnya.
Viona berlari cepat untuk segera sampai di rumahnya. Setelah sampai di rumahnya Viona langsung memasuki kamarnya lalu mengunci pintunya dan menangis sejadi-jadinya. Ia tak kuat menahan rasa perih ini pada hatinya. Kenapa takdirnya harus bernasib seperti ini.
Bohong kalo Viona sudah tidak mencintai Farel. Ia sampai sekarang masih saja mencintai laki-laki itu. Masih dengan perasaan yang sama.
Kalo di tanya siapa yang paling tersakiti jawabannya adalah dirinya yah dirinya, dirinya paling tersakiti sebisa mungkin dirinya melupakan. Namun semakin dirinya ingin melupakan semua itu semakin susah untuk move on bener kata pepatah melupakan itu sak semudah membalikkan telapak tangan.
Viona memandangi surat undangan itu dengan penuh luka dan perih. Ia masih belum bisa menerima semua ini. Sulit rasanya untuk melupakan semua kenangan saat dirinya bersama Farel. Terlalu banyak kenangan manis yang sayang untuk di lupakan. Tapi untuk sekarang ia harus bener-bener belajar untuk melupakan semuanya itu.
 **********
Hari ini tepat di mana Farel menikahi Feby yang di selenggarakan di sebuah hotel ternama di kota ini. Keluarga Farel memang cukup terpendang maka tak heran jika pernikahannya sangat mewah seperti ini.
"Aku kuat. " batinnya menguatkan.
Perlahan Viona menuju pelaminan untuk menyalami sepasang penganten itu dan memberikannya selamat.
"HWD Feby. Selamat menempuh hidup baru yah."
"Makasih Na. Udah mau dateng ke sini."
Jujur ada rasa sakit saat memberi ucapan selamat pada Feby. Dan kini tinggal giliran Farel. Viona hanya bersalaman saja tanpa mengucapkan sepatah kata selamat. Berbeda dengan Farel yang sangat lekat mantap maya Viona begitu dalam dari matanya sangat terlihat jika Farel memang tidak menginginkan pernikahan ini namun apa boleh buat semuanya sudah terjadi. Karena ia sudah tak kuat menahan tangisnya saat ini. Ia ingin segera pulang dari sini. Dengan cepat ia turun dari pelaminan dan menuju pintu keluar.
Tangisnya pecah saat ini. Harusnya dirinya yang bersanding di samping Farel bukan Feby.
"Hiks... Hiks... Hiks... Aku masih mencintaimu Rel masih sangat mencintaimu tapi takdir berkata  lain." tangisnya pecah, ia tak peduli dengan orang sekitar yang memperhatikan dirinya.
Viona segera memesan taksi yang berada di depannya. Dengan cepat ia memasuki taksi tersebut.
Tiba di rumah Viona langsung memasuki kamarnya. Menangis seorang diri menatapi kesedihannya saat ini.
Viona mengambil buku diary miliknya lalu menuliskan isi hatinya saat ini. Baginya cara terbaik untuk menumphakan segala perasaannya adalah buku diary. Karena dengan menulis setidaknya beban di hidupnya sedikit menghilang. Dan buku diary adalah teman terbaik baginya lebih dari apapun.
***TAMAT***