Muhammad Hidayatullah
(Ketua Rayon Masa Khidmat 2018/2019 )
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) adalah salah satu organisasi ekstra yang berada di dalam kampus, setiap organisasi mempunyai pedoman atau landasan untuk membentuk kadernya masing masing. Pada tahun 1990-an, KH Abdurrahman Wahid (Ketua Umum PBNU saat itu) dan Mahbub Djunaidi (Ketua Umum PMII pertama) memiliki pandangan yang hampir sama tentang PMII dan NU. Mereka berdua, meminta para alumnus pergerakan agar mendermabaktikan kemampuannya di NU dalam berbagai tingkatan. Kiai Said menekankan agar PMII menjadi bagian yang mempersiapkan NU pada seratus tahun kedepan dengan segenap kemampuan mereka.
Orientasi PMII adalah menyebarkan Islam Ahlussunah wal-Jama’ah di kampus terkait bagaimana kita bisa merebut ruang di generasi milenial khususnya mahasiswa. Jadi, seperti konten Islam Nusantara kita harus coba perkenalkan di generasi milenial. Caranya PMII untuk menyebarkan dan memperkuat Aswaja di kalangan mahasiswa itu dengan menyederhanakan kurikulum materi Aswaja di kampus, mengadaptasi bagaimana Aswja itu bisa diterima di generasi milenial. Satu, dengan penyebaran melalui media-media modern misalkan dengan media sosial. Jadi instrumen itu yang harus dipakai untuk masuk ke generasi milenial.
Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) harus mampu menunjukkan jatidirinya di kampus dimana mereka belajar. Kader PMII tentu harus aktif dalam berbagai kegiatan kampus sehingga mampu menjadi kader pemimpin masa depan. Para aktifis PMII harus mampu berperan dalam kehidupan kampus sebagai lembaga intelektual. Untuk itu, kader PMII harus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya mempersiapkan diri agar memiliki kemampuan sebagai seorang kader. Mereka yang tidak memanfaatkan waktu dengan baik, maka akan merugi dalam hidupnya. “Organisasi PMII sebagai organisasi kader diharapkan dapat menjadi implementasi tanggungjawab mahasiswa kepada masyarakat. Melalui PMII mahasiswa mulai dilatih untuk memiliki responsif terhadap berbagai masalah yang ada di masyarakat. Orang yang aktif berorganisasi cenderung memiliki responsif terhadap masalah yang terjadi di masyarakat.
Mahasiswa merupakan kaum yang identik dengan ghirah (semangat) belajarnya baik di dalam maupun luar kampus. Kita tahu bahwa kampus hanya menjadi sarana belajar bagi mahasiswa yang mempelajari beberapa mata kuliah sesuai jurusannya masing-masing. Namun pada kenyataannya sarana untuk belajar di kampus saja tidaklah cukup. Mahasiswa masih membutuhkan sarana belajar di luar kampus yang mempelajari tentang pengetahuan kepemimpinan, administrasi, jaringan, analisis sosial, keislaman dan keindonesia’an dan lain-lain. Dari beberapa kebutuhan mahasiswa tentang pengetahuan yang disebutkan tadi di atas merupakan sesuatu yang tidak terdapat di dalam kelas (kampus). Perlu kita ketahui bahwa pengetahuan tersebut hanya terdapat di dalam organisasi mahasiswa yang bergerak di luar kampus.
Kampus yang kita cintai ini adalah kampus yang memegang teguh ajaran Ahlussunah Wal Jama’ah (Aswaja), begitu pula mahasiswanya yang mayoritas merupakan orang-orang yang hidup di lingkungan NU. Oleh karena itu, salah satu organisasi ekstra kampus yang dibutuhkan oleh mahasiswa yang sejalan dengan kultur Nahdliyyin adalah PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia).
PMII SAHABAT RAKYAT
Dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu berinteraksi dengan manusia lainnya. Berinteraksi dengan manusia lainnya merupakan sunnatullah yang tidak terbantahkan lagi karena manusia merupakan makhluk sosial atau makhluk Tuhan yang membutuhkan orang lain. Begitu pula seorang mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari baik di kampus maupun di luar kampus, mahasiswa selalu berinteraksi dengan orang lain.
Untuk mendapat ilmu yang besar maka harus mencari ilmu yang terkecil (dasar) terlebih dahulu. Oleh karena itu, PMII yang merupakan kumpulan masyarakat kecil bisa menjadi awal untuk belajar memahami dinamika sosial di masyarakat. Karenanya tak jarang para anggota dan alumni yang karena aktif di PMII mampu menjadi orang yang terdepan dalam mengatasi pelbagai permasalahan di masyarakat.
Selama ini banyak statement mahasiswa yang tidak berdasar yang menyatakan bahwa anggota PMII hanya sebatas keluyuran yang hanya membuang-buang waktu saja. Tapi faktanya selama ini para anggota PMII yang keluyuran pada dasarnya sedang belajar di masyarakat. Salah satunya dengan cara bersilaturrahmi dan berdiskusi dengan organisasi masyarakat dan tokoh mayarakat bahkan para politisi dan pejabat tinggi.
Posisi gerakan PMII terkait advokasi masyarakat bawah untuk memenuhi hak-haknya Itu sebagian dari strategi; kalaupun dirasa masih diperlukan untuk turun ke jalan atau melakukan pendampingan masyarakat, maka itu perlu dilakukan. Bisa sebagai bagian alat perjuangan, tetapi sekali lagi itu tetap penting, tetapi yang harus dilakukan terlebih dahulu, sesuatu yang wajib itu pengembangan kapasitas diri di kampus, pengembangan Ahlussunah wal-Jama’ahdikampus.
PMII MEMPERLUAS WAWASAN KEILMUAN PARA KADER
Pada umumnya mempunyai wawasan yang luas merupakan harapan yang real bagi setiap mahasiswa. Untuk memiliki pengetahuan yang luas maka kita harus banyak belajar. Di PMII ada kebiasaan (tradisi) yang unik ketika ada dua orang atau lebih bertemu di suatu tempat yang mana orang tersebut merupakan anggota PMII yang aktif, maka hal yang menjadi bahan pembicaraan merupakan sesuatu yang mengandung nilai belajar. Bahkan kebiasaan ini akan selalu terbawa ketika anggota tersebut menjadi alumni. Hal ini dapat dibuktikan ketika anggota PMII mendatangi alumni PMII untuk bersilaturrahmi maka isi dari silaturrahmi tersebut adalah diskusi. Dengan kata lain jika menjadi kader PMII kita akan menjadi insan intelektual yang banyak diskusi di banyak tempat dan pada akhirnya segudang ilmu ada di genggaman kita.
SATU KATA UNTUK KITA SEMUA, PMII IS THE BEST CHOICE
Fakta idealnya, PMII mempunyai tradisi intelektual yang patut untuk dijadikan contoh yang baik bagi mahasiswa. Sebenarnya hal-hal yang seperti inilah yang dibutuhkan oleh mahasiswa, karena waktu belajar di kampus yang sangat terbatas, di satu sisi bisa menyebabkan kepuasan intelektual yang kurang terpenuhi dan di sisi lain cara belajar yang monoton bisa menimbulkan kebosanan tersendiri.
“Kalimat akhir yang paling mungkin bisa saya sampaikan adalah bahwa menjadi anggota PMII hukumnya wajib bagi seluruh mahasiswa yang ingin berwawasan luas sebelum penyesalan menghantui anda”

0 Komentar